Catatan Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo

Never too old to learn and to do

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

SEJARAH PERNIKAHAN DINI DI BERBAGAI BELAHAN DUNIA

Posted by Ahmad Farisi on 2 October 2015

The_Marriage_Of_Richard_Of_Shrewsbury,_Duke_Of_York,_To_Lady_Anne_Mowbray

The Marriage Of Richard Of Shrewsbury, Duke Of York, To Lady Anne Mowbray

Pernikahan Dini di Yunani kuno

Seorang gadis di Yunani kuno dijodohkan pada usia 5 tahun dan menikah pada usia rata-rata 14-15 tahun dan mempelai prianya sekitar 30 tahun

Pernikahan Dini di Romawi Kuno
Pada umumnya, pada kisaran tahun 530M, usia legal seorang mempelai wanita menikah adalah 12 tahun dan untuk mempelai pria 14 tahun, pertunangan dilakukan jauh sebelum usia tsb, umumnya pada usia 7 tahun. Kaisar Agustus yang berkuasa jauh sebelumnya (7M) menetapkan batas usia minimal perkimpoian adalah 10 tahun. Penetapan usia legal menikah ini tidak mempertimbangkan seorang gadis telah mencapai puber atau belum. Asalkan usia legalnya sudah terpenuhi, pernikahan bisa dilaksanakan.

Pernikahan Dini di Mesir Kuno
Usia umum pernikahan di Mesir kuno, untuk wanita 12/13 tahun dan laki-laki 14 tahun, bahkan catatan yang pernah ditemukan tentang usia pernikahan seorang gadis mesir kuno pada masa yunani-roma adalah 8 tahun.

Pernikahan Dini di China
Setiap dinasti memiliki batas usia pernikahan yang berbeda-beda, dinasti Han menetapkan batas usia pernikahan 15 tahun, dinasti Tang 25 tahun, Qing 16 tahun. Pada pertengahan dinasti Ching, suku Lolo di Propinsi SzeChuan bahkan menikahkan anak-anaknya pada usia 4-5 tahun.

Pernikahan Dini di Eropa
Di Eropa, pada abad pertengahan, wanita kelas atas biasanya menikah pada usia 12 tahun dan maksimal 14 tahun, sedangkan laki-laki biasanya menikah pada usia 17 tahun.

Sedangkan wanita kelas menengah ke bawah, khususnya masyarakat petani, orang tua sang mempelai tidak punya kekuasaan untuk menentukan pernikahan anaknya. Di sebagian wilayah eropa, pernikahan para wanita kelas menengah ke bawah diatur oleh para bangsawan tuan tanah, penguasa feudal setempat. Dan para penguasa ini merenggut keperawanan mempelai wanita sebelum menikah dengan pasangannya.

Aturan penguasa feudal itu disebut dengan Jus Primae Noctis yang artinya Jus= Hukum, Primae Noctis= “malam pertama”, di Perancis disebut Droit de Seigneur yang artinya Hak Tuan Tanah, di Jerman disebut dengan das Recht der ersten nacht yang artinya Hak atas malam pertama.

Mungkin para pembaca sering mendengar kisah Romeo dan Juliet. Dalam kisah tersebut digambarkan Juliet berusia 13 tahun saat menikah, dan ibu Juliet baru berusia 26 tahun. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa masyarakat di Eropa pada abad pertengahan menganggap biasa menikah pada usia tersebut.

Spoiler for pernikahan Richard II of England dengan gadis kecil Isabella De Valois

Contoh-contoh bangsawan Eropa yang melakukan pernikahan usia dini:
Richard Of Shrewbury menikahi Anne de Mowbray dari Norfolk yang Berusia 5 tahun.
Anne De Mowbrey adalah putri dari Jhon De Mowbray, 4th Duke Of Norfolk. Anne De Mowbrey (4 tahun) menikah pada 15 januari 1478 dengan Richard of Shrewbury (first duke of york) (4 tahun)

Sumber: https://fr.wikipedia.org/wiki/Anne_de_Mowbray

Richard II of England menikahi Isabel of france saat masih berusia 7 tahun

Pada saat tahun 1396, Richard II of England mengadakan perjanjian gencatan senjata selama 28 tahun dengan perancis. Dalam perjanjian gencatan senjata tsb, salah satu syaratnya adalah Richard II harus menikah dengan Isabella de la valois, putri raja Charles VI dari Perancis. Pada saat itu Isabella masih berusia 7 tahun dan Richard sendiri berusia 29 tahun.

Caterina Sforza menikah dengan Girolamo Riario pada usia 10 tahun
Caterina Sforza menikah dengan Girolamo Riario keponakan Paus Sixtus IV pada tahun 1473 saat umur Caterina 10 tahun dan Girolamo 30 tahun.

Raja Haakon VI dari Norwegia menikah dengan Margaret saat berumur 10 tahun
Raja Haakon VI (1340-1380) dari Norwegia bertunangan dengan putri Raja Valdemar IV dari Denmark bernama Margrete Valdemarsdatter yang berusia 6 tahun. Margrete menikah saat usia 10 tahun dan Haakon saat itu berusia 23 tahun.

Margaret OF France menikah dengan Henry the Young King Of England saat masih berusia 2 tahun
Margaret of France (1157-1197) atau dikenal juga dengan Queen Of England and Hungary adalah putri dari Louis VII of France. Margaret dinikahkan saat masih berusia 2 tahun dengan Henry The Young King (1155-1183) yang saat itu masih berusia sekitar 4 atau 5 tahun.

Pernikahan Dini di Kalangan Rakyat Jelata Eropa Pada Abad Pertengahan
Pernikahan dini ternyata tidak hanya terjadi pada kalangan bangsawan saja tapi juga terjadi pada rakyat jelata. Af Chamberlain dalam bukunya The Child and Childhood in folk Thought mengutip dari penelitian dr Furnivall di wilayah Keuskupan Chester, Cheshire Inggris 1561-1566, menyatakan pernikahan anak-anak bahkan balita sering terjadi di gereja. Tercatat ada 27 pernikahan legal anak-anak dan balita dari kalangan rakyat biasa, antara lain sebagai berikut
1. Elizabeth Hulse 3 tahun menikah dengan George Hulse 7 tahun
2. Jhon Somerford usia 3 tahun menikah dengan Jane Brerton usia 2 tahun
3. Bridget Dutton (usianya dibawah lima tahun) menikah dengan George Spurstowe usia 6 tahun
4. Margaret Stanley usia 5 tahun menikah dengan Roland Dutton usia 9 tahun
5. Janet Parker usia 5 tahun menikah dengan Lawrence Parker Usia 9 tahun
6. Ellen Dampart usia 8 tahun menikah dengan Jhon Andrew usia 10 tahun

Hukum Gereja Tentang Pernikahan Dini Pada Abad Pertengahan di Eropa
Di dalam Bibel tidak pernah disebutkan tentang batasan usia dalam pernikahan. Aturan batas usia pernikahan dibuat oleh gereja.

Pernikahan di Eropa pada Abad pertengahan banyak diatur oleh gereja. Oleh Gereja aturan pernikahan pada Abad ke 12 diatur dalam canon yang dikenal dengan Gratian Decretum/Dekrit Gratia (dimana batas usia menikah adalah 7 tahun), yang kemudian pada abad ke 16 diatur oleh konsili Trent (batas usia menikah 14 tahun untuk laki-laki dan 12 tahun untuk perempuan)

Catatan: Para Orientalis mempermasalahkan Nabi Muhammad saw yang dinikahkan dengan gadis berumur 6 tahun, Walau Rasul baru berkumpul dengan nya saat gadis itu sudah berusia 9 tahun. Lalu mereka menganggap bahwa Muhammad adalah Pedofil. Mereka lupa bahwa pernikahan dini di negara asalhnya banyak dilakukan oleh orang-orang kelas atas dan bangsawan. Dan mereka tidak pernah menganggap bahwa orang-orang Bangsawan yang menikahi gadis usia dini itu pedofil.

Padahal Muhammad saw hidup sebelum 1400 tahun yang lalu, dengan tradisi yang sudah jauh berbeda dengan zaman kita sekarang. Sedangkan para bangsawan Barat termasuk Richard II Of England hidup baru 800 tahun lalu.

Kenapa kaum orientalis selalu mempermasalahkan nikah dini yang dilakukan oleh nabi Muhammad yang sudah 1400 tahun lalu dan tidak mempermasalahkan pernikahan Richard dengan Isabella yang baru berumur 7 tahun, dan kejadiannya baru 800 tahun lalu?
===
Mungkin untuk zaman sekarang ini, jangankan menikahi anak berumur 9 tahun. menikahi gadis berumur 14 tahun saja bisa kena pasal perlindungan anak. Terutama di Indonesia setelah ada “Kak Seto” 🙂

Jadi jangan nilai dan jangan bandingkan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun lalu dengan kacamata tradisi sekarang. Karena kamu tidak akan pernah memahaminya dengan baik. Dulu zaman batu, sekarang zaman batu akik. dulu zaman Siti Nurbaya, sekarang zaman Siti Badriyah dan Siti Nurhaliza :))

Cara berfikir orang dulu dan sekarang pun sudah berbeda karena dipengaruhi banyak faktor.
1000 tahun lalu, Ijazah gelar sarjana tidak pernah bisa dipakai untuk melamar kerja, sekarang kamu mau mengajar TK saja harus nunjukin ijazah sarjananya. Right?

Pernikahan Dini di Semenanjung Arabia Abad Ke 7 M

Mengenai usia pernikahan di semenanjung Arabia pada zaman itu, Colin Turner seorang Profesor Ahli bahasa Persia dan Sejarah Islam dalam bukunya Islam The Basics, menyatakan bahwa pernikahan dini sangat umum terjadi pada masyarakat Badui. Perbedaan usia yang jauh dimana seorang laki-laki yang berumur (tua) menikahi gadis yang masih sangat belia bukanlah hal yang aneh. Pada umumnya gadis-gadis di wilayah tersebut cepat matang secara seksual dibandingkan gadis gadis barat zaman modern. Bahkan Washington Irving seorang orientalis abad 19 dalam bukunya yang berjudul Mahomet and His succesors menyatakan sebagai berikut: Ayesha (Aisyah), berusia sekitar tujuh tahun,meskipun wanita cepat sekali mencapai pubertas/kematangan di iklim timur, tetapi dia masih terlalu muda memasuki gerbang pernikahan. Dia (Muhammad) hanya bertunangan dengan Ayesha (Aisyah), karena itu pernikahan ditunda selama dua tahun….

….Dua tahun berlalu sejak pertunangan, dan sekarang dia (Aisyah) telah berusia sembilan tahun, sepertinya tampak masih kecil, tetapi fisik wanita Arab sangat cepat dewasa karena iklim di daerah timur…
Jadi Washington Irving membenarkan bahwa gadis di Arab pada saat itu cepat sekali mengalami kematangan seksual, bahkan pada usia 9 tahun Aisyah r.a sudah terlihat dewasa.

Menurut literatur yang lain dari Timur disebutkan sebagai berikut:

Imam Syafi’i, menulis dalam Siyar a’lam al Nubala (vol 10 page 91): selama perjalanan saya ke Yaman, saya bertemu seorang gadis yang pada usia 9 tahun telah mengalami menstruasi….

Imam al Bayhaqi juga meriwayatkan ucapan Imam Syafi’i dalam sunan al Bayhaqi al Kubra (vol 1, p.319): Saya melihat di kota Sana’a seorang nenek yang berusia 21 tahun. Dia Haidh pada usia 9 tahun dan melahirkan pada usia 10 tahun.

Pernikahan Dini di Amerika

Pernikahan dini di Amerika banyak terjadi di kalangan koloni awal yang datang dari negara-negara Eropa pada awal abad ke 17. Pada tahun 1689, di negara Virginia, Mary Hathaway usia 9 tahun menikah dengan William William. kasus lain adalah Sarah Halfhide seorang janda berusia 14 tahun menikah dengan Richard Perrot yang berusia 21 tahun.Berikut adalah table usia Age Of Consent/ Usia kedewasaan yaitu usia legal untuk bisa menikah di Amerika sejak tahun 1880 di setiap Negara bagian, silakan klik link ini untuk melihat tabel http://chnm.gmu.edu/cyh/teaching-modules/230?section=primarysources&source=24
Hampir di setiap Negara bagian menunjukkan pada tahun 1880 usia kedewasaan rata-rata adalah 10 tahun, bahkan di Negara bagian Delaware hanya 7 tahun. Tahun 1880 berjarak cukup dekat dengan waktu saat ini. Jika Amerika melegalkan usia pernikahan 10 tahun bahkan 7 tahun pada saat itu, maka apakah Amerika boleh disebut Negara Pedofilia?  Bahkan Benjamin Franklin, salah satu founding father Amerika, sangat mendukung pernikahan usia dini, Berikut adalah surat yang ditulis Benjamin Franklin kepada Jhon Alleyne yang diterbitkan di Koran Pensylvania Packet pada 30 Oktober 1789
Benjamin Franklin c. 1790
Benjamin Franklin c. 1790

Dear Jack,
You desire, you say, my impartial thoughts on the subject of an early marriage, by way of answer to the numberless objections which have been made by numerous persons to your own. You may remember when you consulted me on the occasion, that I thought youth on both sides to be no objection. Instead, from the marriages which have fallen under my observation, I am rather inclined to think that early ones stand the best chance for happiness.The tempers and habits of the young are not yet become so stiff and uncomplying as when more advanced in life; they form more easily to each other, and hence many occasions of disgust are removed. And if youth has less of that prudence which is necessary to manage a family, yet the parents and elder friends of young married persons are generally at hand, to afford their advice, which amply supplies that defect; and by early marriage youth is sooner formed to regular and useful life; and possibly some of those accide nts or connections that might have injured the constitution or reputation, or both, are thereby happily prevented. Particular circumstances of particular persons may possibly sometimes make it prudent to delay entering into that state; but in general, when nature has rendered our bodies fit for it, the presumption is in nature’s favor, that she has not judged amiss in making us desire it.

Late marriages are often attended too with this further inconvenience; that there is not the same chance that the parents shall not live to see their offspring educated. Late children, says the Spanish proverb, are early orphans; a melancholy reflection to those whose case it may be! With us in America, marriages are generally in the morning of our life; our children are therefore educated and settled in the world by noon; and thus our business being done, we have an afternoon and evening of cheerful leisure to ourselves, such as our friend at present enjoys.

By these early marriages, we are blessed with more children, and from the mode among us, founded by nature, of every mother suckling and nursing her own child, more of them are raised. Thence the swift progress of population among us, unparalleled in Europe.

In fine, I am glad you are married, and congratulate you most cordially upon it. You are now in the way of becoming a useful citizen, and you have escaped the unnatural state of celibacy for life, the fate of many here, who never intended it, but who, having too long postponed the change of their condition, find at length that it is too late to think of it; and so live all their lives in a situation that greatly lessens a man’s value– an odd volume of a set of books bears not the value of its proportion to the set. What think you of the odd half of a pair of scissors?…it can’t well cut any…it may possibly serve to scrape a trencher.

Pray make my compliments and best wishes acceptable to your bride. I am old and heavy, or I should ere this have presented them in person. I shall but make small use of the old man’s privilege, that of giving advice to younger friends.—– Treat your wife always with respect; it will procure respect to you, not from her only, but from all that observe it. Never use a slighting expression to her, even in jest; for slight in jest, after frequent bandyings are apt to end in angry earnest. Be studious in your profession, and you will be learned. Be industrious and frugal, and you will be rich. Be sober and temperate, and you will be healthy. Be in general virtuous, and you will be happy! At least you will by such conduct, stand the best chance for such consequences. I pray God to bless you both! being ever your affectionate friend, B.F.

Sumber:  http://www.earlyamerica.com/bookmarks/benjamin-franklin-marriage/
Terjemahan surat bagian yang di bold: “Melalui pernikahan dini ini, kita diberkati dengan banyaknya anak, dan merupakan mode yang telah ditetapkan oleh alam. Dari setiap ibu yang menyusui dan merawat anaknya, semakin banyak dari mereka yang terpelihara dan tumbuh dibesarkan. Kemudian, laju pertumbuhan populasi di antara kita, tidak tertandingi oleh Eropa.”

Benjamin Franklin sendiri sudah menyatakan bahwa pernikahan dini adalah anjuran bangsa Amerika untuk memperoleh keturunan sebanyak-banyaknya. Pada saat itu masih tahun 1789 yang berarti usia kedewasaan yang berlaku sekitar 10-12 tahun. Artinya Benjamin Franklin merestui pernikahan dini usia 10-12 tahun bahkan 7 tahun di Delaware.

Kelompok aliran Qur’an Only atau yang biasa disebut ingkarussunnah sering mengikuti tuduhan orientalis yang menganggap bahwa pernikahan dini pada zaman itu adalah pedofil. Namun motivasi utama aliran ingkarussunnah adalah untuk mengingkari hadits yang telah menyebutkan kisah Muhammad saw dinikahkan oleh Abu Bakar dengan putrinya yang baru berumur 6 tahun.

Aliran ingkarussunnah sering membenturkan kisah tersebut dengan Qs. Annisa ayat 6 sebagai berikut:

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُمْ مِنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَنْ يَكْبَرُوا وَمَنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَنْ كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا  ﴿النساء:٦﴾

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).”

Aliran ingkarussunnah telah salah memahami ayat 6 dari surat Annisa di atas. Mereka mengira bahwa ayat tersebut adalah larangan menikah dini. Padahal ayat tersebut sedang berbicara mengenai harta anak yatim dan cara bagaimana menjaganya.

Saat seseorang yang menjaga harta anak yatim tersebut hendak menyerahkan hartanya, maka ujilah ia hingga seumuran layak kawin dan pastikan bahwa ia telah pandai memelihara hartanya. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya penghambur-hamburan harta atau mengantisipasi dari kecurangan orang-orang yang hendak menikahinya dengan tujuan hanya untuk menguasai hartanya. Qs. Annisa: 6 sama sekali tidak sedang melarang pernikahan dini, apalagi pernikahan dini anak yang bukan yatim. Wallahu a’lam…

Advertisements

Posted in Uncategorized | 2 Comments »

7 Langkah Jitu Agar Orang Ingkari Hadits

Posted by Ahmad Farisi on 1 October 2015

sujud2Mungkin kita pernah bertanya, apa sih hadits itu? Apa manfaat hadits dan kenapa Umat Islam menjadikan Hadits sebagai rujukan dalam menentukan hukum setelah Al Qur’an?

Ibarat pepatah kuno, “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak dikawinkan”heu heu… Ops! 😀

Jika seseorang hanya melihat sisi baiknya hadits, maka ia tak akan pernah sadar bahwa hadits yang sering ia sebut pada setiap ceramah, ternyata adalah hadits palsu bin mungkar yang tidak ada asal usulnya dari Rasulullah saw. Bahkan hadits semacam itu berpotensi bisa merusak aqidah Umat Islam.

Begitupun sebaliknya, jika seseorang sudah terbiasa melihat sisi buruknya hadits, maka apapun yang dikatakan, selama ia berasal dari hadits, akan diingkarinya mati-matian. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari ternyata tanpa sadar ia sebenarnya telah mempraktekkan hadits tersebut.

Berikut adalah 7 langkah agar orang ingkari hadits:

  1. Carilah hadits-hadits palsu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Akal, lalu kritik lah matan hadits tersebut dengan ulasan yang sedikit ilmiyah, lalu benturkan hadits tersebut dengan ayat-ayat Al Qur’an. Dengan demikian, orang bisa geleng-geleng kepala keheranan. Bagi yang dari awalahnya sudah terbiasa mengingkari hadits, ia akan tertawa girang, namun bagi yang sebelumnya mengakui hadits sebagai hujjah (argumen), ia akan merasa down dan kecewa.
  1. Hadirkan hadits-hadits Masyhur yang dianggap shahih, namun bertentangan dengan tradisi zaman sekarang atau dirasa bertentangan dengan logika.

Contohnya adalah hadits “perintah meminum kencing onta untuk menyembuhkan penyakit”, pernikahan Rasul dengan Aisyah, dan berkumpul dengannya saat ia masih baru berumur 9 tahun. Atau hadits “tawar menawar jumlah shalat wajib saat Rasul Isra’ Mi’raj” dll

Hadits-hadits di atas cukup ampuh untuk membuat orang alergi terhadap hadits.

Sebenarnya… mengenai hadits Rasul perintah meminum air kencing onta sebagai obat, telah sering dijadikan olok-olokan oleh kaum orientalis untuk menyerang Islam dan Rasulullah saw. Namun itu dulu. Sekali lagi itu dulu ya, saat belum ada penelitian dan belum ditemukan bukti bahwa ternyata “air seni” atau urin itu benar-benar bisa dijadikan obat untuk berbagai penyakit.

Silahkan baca manfaat urin atau air kencing pada link berikut:5-manfaat-mengejutkan-dari-urine

http://www.tribunnews.com/lifestyle/2015/01/21/air-kencing-ternyata-obat-manjur-atasi-jerawat

Atau ini

http://www.merdeka.com/sehat/5-manfaat-mengejutkan-dari-urine.html

Atau yang ini

http://www.beritasatu.com/features/43652-urine-ternyata-mengandung-hormon-anti-penuaan.html

  1. Membandingkan pembukuan hadits yang menurutnya baru dilakukan 200 tahun setelah Rasul wafat, dengan pembukuan Al Qur’an yang dilakukan pada zaman Khalifah Abu Bakar Sidiq.

Sebenarnya mengatakan bahwa hadits baru dibukukan 200 tahun pasca Rasul wafat tidak lah benar. Para sahabat sebelumnya sudah banyak yang memiliki suhuf hadits yaitu lembaran-lembaran catatan hadits.

Bahkan ada tafsirTafsiribnabbas yang namanya “Tafsir Ibnu Abbas” yang mana di dalamnya memuat banyak hadits. Tafsir ini masih terus dipelajari di kampus-kampus Islam hingga sekarang. Perlu diketahui bahwa Ibnu Abbas adalah seorang sahabat yang terkenal dengan ilmu tafsirnya.

Kemudian Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki) mempunyai kitab “Al Muwatha” yang di dalamnya banyak meriwayatkan hadits. Begitu juga  Imam Ahmad bin Hanbal (Madzhab Hanbali) telah menyusun dan mengumpulkan hadits dalam kitab nya yang terkenal, yaitu “Musnad Ahmad”.

Untuk membuktikannya, silahkan dicek sendiri, berapa tahun jarak antara Imam Malik saat menyusun kitab Muwatha’ dengan wafatnya Rasulullah saw?

  1. Kaburkan makna hadits agar orang menganggap bahwa hadits adalah karangan Imam Bukhari.

Cara ke empat ini sangat jitu untuk mempengaruhi orang agar mengingkari hadits. Jika sudah tertanam dalam hati bahwa hadits adalah karangan Bukhari, maka akan timbul pertanyaan pada diri sendiri. “Bagaimana mungkin karangan seseorang yang tidak maksum (terbebas dari salah) bisa dijadikan sumber hukum?”

Maka tak heran jika kemudian kita sering mendapatkan pertanyaan seperti ini: “Bagaimana shalatnya orang yang hidup sebelum Bukhari lahir?” Pertanyaan semacam ini adalah indikasi bahwa ia tidak paham apa itu hadits, sehingga berdialog mengenai hadits dengan orang seperti ini hanya akan menemui jalan buntu, dan bahkan bisa berujung olok-olokan.

Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud hadits adalah “ma udhifa ila nabi min qoulin au fi’lin” ringkasnya, “Hadits adalah ucapan ataupun perbuatan Rasulullah saw”. Jadi baik hadits itu ditulis ataupun tidak ditulis, atau di kitab mana hadits itu ditemukan, selama ia bersumber dari ucapan atau perbuatan Rasul maka ia disebut hadits Rasul.

Nah kalau ada pertanyaan, dari mana Umat Islam bisa shalat sebelum Bukhari lahir? Ya tentunya dari hadits Rasul yang diriwayatkan oleh ulama pada waktu itu dari generasi ke generasi hingga Rasulullah saw.

  1. Hadits adalah ucapan Allah, dan selain hadits Allah adalah “lahwal hadits” ucapan yang sia-sia. Hadits Allah adalah “ahsanul hadits” hadits terbaik.

Yup… semua mengakui bahwa hadits terbaik adalah hadits Allah. Rasulullah saw pun menegaskan akan hal itu: “Sebaik-baik hadits adalah ucapan Allah”. Namun jika ada sesuatu yang TER-baik, berarti di situ ada sesuatu yang baik, agak baik, kurang baik dan tidak baik. Bukankah begitu?

Lantas benarkan selain hadits Allah itu berarti lahwal hadits?

Coba perhatikan:

وَ هَلْ أَتاكَ حَديثُ مُوسى‏

Apakah telah sampai kepadamu HADITS Musa?

إِذْ رَأى‏ ناراً فَقالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ ناراً لَعَلِّي آتيكُمْ مِنْها بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدىً

Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya:” Tinggallah kamu ( di sini ), sesungguhnya aku melihat api, mudah- mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”.

Jadi tidak semua kata HADITS selain hadits Allah itu lahwal hadits bukan? ketika hadits Musa itu baik dan bukan merupakan lahwal hadits, maka Hadits Rasulullah saw pun baik dan bukan merupakan lahwal hadits. Right?

  1. Kitab hadits versi Sunni tidak diakui Syi’ah dan kitab hadits Syi’ah tidak diakui Sunni, padahal kedua-duanya mengaku kitab haditsnya paling shahih.

Mendengar perkataan tersebut di atas, sebagian orang mungkin akan memanggut-manggutkan kepala membenarkan. “Oh iya yah… katanya hadits itu ucapan nabi, kenapa tidak saling diakui?”

Namun taukah kamu? Bahwa perkataan di atas sangat keliru. Pernahkah kamu mendengar nama Imam Abu Hanifah? Beliau adalah salah satu ulama Madzhab Sunni, dan guru beliau adalah Imam Ja’far Shodiq, yang merupakan salah satu ulama yang oleh Syiah Imamiyah dijadikan sebagai salah satu Imam yang 12. Berarti Imam Abu Hanifah mengakui hadits yang diriwayatkan oleh ulama Syiah, bukan?

unduhan (1)Lalu pernahkan kamu mendengar nama Imam Hakim penyusun kitab hadits “Al Mustadrak”? beliau adalah “tasyayu'” yang condong ke Syiah, namun hadits-hadits yang beliau riwayatkan diakui oleh ulama Sunni dan bahkan kitab haditsnya dijadikan rujukan. 😀

Kemudian pernahkah kamu mendengar bahwa banyak perawi di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari itu bermadzhab Syiah? Atau pernahkah kamu  mendengar Imam Syaukani pengarang kitab “Nailul Author”? Beliau adalah ulama Syi’ah Zaidiyah yang kitabnya dijadikan rujukan dalam bab fiqih oleh masyarakat Sunni.

Jadi tidak benar tuduhan bahwa Sunni tidak mengakui hadits yang diriwayatkan perawi Syiah atau Syiah tidak mengakui hadits yang diriwayatkan perawi Sunni.

Toh secara garis besar, tatacara haji, shalat, idul fitri, idul adha dan lain sebagainya antara Sunni dan Syiah tidak banyak perbedaan, karena sumbernya satu yaitu Al Qur’an yang dipahami dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw. Dengan kata lain Al Qur’an dan Hadits atau Sunnah Rasul. Bukan Al Qur’an yang dipahami secara sendiri-sendiri seperti main tebak-tebakan. 😛

  1. Hadits adalah penyebab perpecahan umat.

Memang, pada kenyataanya kaum muslimin yang sedang berperang dan saling membunuh satu sama lain adalah mereka yang mengakui adanya hadits Rasul.

Namun pertanyaanya, hadits manakah yang membolehkan kaum muslimin saling bunuh dengan sesamanya?

Bahkan kalau kita mau memahami lebih dalam, mereka justru lebih sering memakai dalil-dalil Al Qur’an yang dipahami secara keliru untuk membenarkan aksi jahatnya.

Berikut adalah beberapa ayat yang sering mereka jadikan dalil:

وَمَن لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”

Lantas ayat di atas di sambung dengan ayat di bawah berikut ini:

“Bunuhlah (orang-orang kafir), Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu, Dia memberikan kehinaan kepada mereka dan Dia akan menolong kamu terhadap mereka serta Dia melegakan hati kaum yang beriman”. (QS At Taubah 9 : 14)

“…. Bunuhlah pimpinan-pimpinan orang kafir, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya ….” (QS At Taubah 9 : 12)

Nah untuk perpecahan kaum yang mengingkari Hadits, nampaknya sudah bukan rahasia lagi, walau mereka mengaku mengikuti Al Qur’an yang sama dan jumlah pengikutnya pun tidak lebih dari 1 %.

Wallahu a’lam bis shawaab…

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Dialog Antara Qur’an Only dan Qur’an Terjemahan Versi Google

Posted by Ahmad Farisi on 29 September 2015

IMG_20141115_193031Qur’an Only atau biasa disebut “ingkar Sunnah’ adalah sebuah kelompok yang beranggapan bahwa Al Qur’an bisa dipahami tanpa perlu adanya penjelasan lain, termasuk penjelasan dari Rasul yang biasa disebut Hadits Rasul. Bahkan menurutnya segala bentuk ibadah maupun hukum halal haram semuanya sudah tertulis di dalam Al Qur’an, jadi tidak perlu lagi mencari hukum diselain Al Qur’an. Kelompok ini menolak segala bentuk hadits dan sunnah Rasul. Berikut adalah dialog antara Qur’an Only dan Qur’an Terjemahan Versi Google.

+ Qur’an Only (QO): Cukuplah kita taat kepada Allah. Karena Ia lah yang menciptakan kita dan hanya kepadaNya kita akan dikembalikan.

– Qur’an Terjemahan Versi Google (QTVG): “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya” (QS Al-Anfal 08: 20)

+ QO: Rasul itu hanya utusan Allah. Makanya kalau ada perkara yang diperselisihkan, kita diperintahkan untuk dikembalikan kepada Allah, yaitu Al Qur’an. Karena Al Qur’an adalah Furqon/pembeda.

– QTVG: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, serta ulil amri diantara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59).

+ QO: Taat kepada Rasul itu artinya disuruh taat kepada aturan Allah yang ada di Al Qur’an, karena Rasul hanya menyampaikan dan mengajarkan Al Qur’an saja.

– QTVG: “Sebagaimana ( kami telah menyempurnakan ni’mat kami kepadamu ) kami telah mengutus kepadamu rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan memsucikan kamu dan mengajarkan kepada kamu al-kitab dan al-hikmah serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah: 151)

+ QO: Allah hanya menurunkan kepada Rasul, Ahmad bin Abdullah Al Kitab saja yaitu Al Qur’an. Berarti walaupun Rasul juga mengajarkan Al Hikmah, akan tetapi yang dimaksud Al Hikmah adalah pemahaman Al Qur’an.

– QTVG: “Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Al-Kitab dan Al-Hikmah kepadamu.” (An-Nisa`: 113)

+ QO: Meskipun Allah menurunkan Al Hikmah kepada Rasul dan Rasul mengajarkannya, tapi menurutku Al Hikmah itu bukan wahyu. Dan yang perlu diingat, Rasul itu hanya manusia biasa yang ucapannya bisa salah. Sedangkan Al Qur’an itu wahyu dari Allah, sudah pasti benar. Karena itu yang bisa dijadikan hukum hanya Al Qur’an. Karena ucapan Rasul bukan wahyu.

– QTVG: “Dan dia (Muhammad) tidak berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. An-Najm [53]:3-4)

+ QO: Ya. Tapi Allah itu yang mengatur dan membuat hukum. Allah tidak mau ada dualisme hukum. Karena Ia adalah HAKIM tunggal.

– QTVG: “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) HAKIM terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 61 & 65)

+ QO: Ya okelah, pada waktu itu Rasul masih hidup. Lha sekarang Rasul sudah mati, maka kita hanya disuruh mengikuti Al Qur’an saja. Masa mau meneladani dan taat kepada orang yang sudah mati?

– QTVG: “Kemudian Kami Wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama Ibrahim yang hanif, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. An-Nahl:123)
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)

+ QO: Mmmm… Rasulullah hanya meninggalkan Al Qur’an? Jadi kalau mau meneladani Rasul ya cari di Al Qur’an. Tidak perlu ada kitab-kitab lain seprti tafsir, hadits dll. Bukankah Al Qur’an sudah jelas dan terperinci? Jadi sudah tidak perlu lagi mencari penjelsan lain. Karena semuanya sudah dijelaskan Al Qur’an.

– QTVG: “Bertanyalah kepada ahli ilmu (Ahli Dzikr) jika engkau tidak tahu” (QS. An Nahl: 43)

+ QO: “Emang ada yang belum dijelaskan Al Qur’an? Bukankah Al Qur’an kitab petunjuk dan penjelasan mengenai petunjuk itu? Itu artinya Al Qur’an sudah jelas tanpa butuh penjelasan dari siapapun. Karena ayat satunya itu menjelaskan kepada ayat yang lain.

– QTVG: “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertaqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya”. (203) [QS. Al-Baqarah : 200-203]

+ QO: ???&^$%#$%^ ???! @_@

Elfaris:Teman-teman di sini ada yang bisa bantu Qur’an Only untuk menjelaskan maksud dari QS. Al-Baqarah : 200-203 itu apa?
1. Apa yang dimaksud beberapa hari yang terbilang?
2.” Barangsiapa yang ingin cepat berangkat” berangkat dari mana mau kemana?
3. “sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya.” Kok tiba-tiba ngomong sesudah 2 hari. Itu 2 hari apa ya?hmmm…

Posted in Uncategorized | 3 Comments »

Adab Islami Ziarah Kubur

Posted by Ahmad Farisi on 21 March 2013

Ketahuilah hamba-hamba Allah, sadar atau tidak sadar, kita semua saat ini sama-sama sedang menuju garis akhir kehidupan kita di dunia,  meskipun jaraknya berbeda-beda setiap orang. Ada yang cepat, ada yang lama. Tetapi, perlahan tapi pasti, setiap orang menuju garis akhir kehidupannya di dunia, itulah kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran : 185)

Setelah mati, seorang hamba hanya tinggal memetik apa yang selama ini ia tanam di dunia, tidak ada kesempatan kedua untuk menambah amal. jika kebaikan yang ia tanam, itulah yang akan ia panen. Jika keburukan yang ia tanam, maka dialah yang akan merasakannya sendiri. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk banyak-banyak mengingat kematian. Beliau bersabda,

“أكثروا ذكر هازم اللذات” يعني : الموت.

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian) ”[1]

Dan di antara cara untuk mengingat kematian adalah dengan berziarah kubur. Banyak sekali manfaat yang dapat dipetik dari amalan berziarah ke kubur. Inilah yang akan menjadi topik pembahasan kali ini[2] mengingat masih banyaknya kaum muslimin yang salah dalam menyikapi ziarah ini sehingga bukannya manfaat yang mereka raih, akan tetapi ziarah mereka justru mengundang murka Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga Allah Ta’ala  memberikan kita semua petunjuk.

Hukum ziarah kubur

Ziarah kubur adalah sebuah amalan yang disyari’atkan. Dari Buraidah Ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah” [3]

Bolehkah wanita berziarah kubur?

Para ulama berselisih dalam hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan ada 5 pendapat ulama dalam masalah ini :

–          Disunnahkan seperti laki-laki

–          Makruh

–          Mubah

–          Haram

–          Dosa besar[4]

Ringkasnya, pendapat yang paling kuat –wallahu a’lam– adalah wanita juga diperbolehkan untuk berziarah kubur asal tidak sering-sering. Hal ini berdasarkan beberapa alasan :

Pertama: Keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sudah lewat :

كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah”[5]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara laki-laki dan wanita.

Kedua: Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya wanita berziarah lebih shahih daripada hadits yang melarang wanita berziarah. Hadits yang melarang wanita berziarah tidak ada yang shahih kecuali hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

أن رسول الله لعن زوّارات القبور

“Rasulullah melaknat wanita yang sering berziarah kubur”[6]

Ketiga: Lafazh زوّارات dalam hadits di atas menunjukkan makna wanita yang sering berziarah. Al Hafizh Ibnu Hajar menukil perkataan Imam Al Qurthubi : “Laknat dalam hadits ini ditujukan untuk para wanita yang sering berziarah karena itulah sifat yang ditunjukkan lafazh hiperbolik tersebut (yakni زوّارات )”[7]. Oleh karena itu, wanita yang sesekali berziarah tidaklah masuk dalam ancaman hadits ini.

Keempat: Persetujuan (taqrir) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur kemudian beliau hanya memberikan peringatan kepada wanita tersebut seraya berkata,

اتقى الله و اصبرى

“Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah!”[8]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengingkari perbuatan wanita tersebut. Dan sudah diketahui bahwa taqrir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hujjah.

Kelima: Wanita dan laki-laki sama-sama perlu untuk mengingat kematian, mengingat akhirat, melembutkan hati, dan meneteskan air mata dimana hal-hal tersebut adalah alasan disyari’atkannya ziarah kubur. Kesimpulannya, wanita juga boleh berziarah kubur

Keenam: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada para wanita untuk berziarah kubur. Dalilnya adalah hadits dari shahabat Abdullah bin Abi Mulaikah :

أن عائشة أقبلت ذات يوم من المقابر، فقلت لها: يا أم المؤمنين من أين أقبلت؟ قالت: من قبر أخي عبد الرحمن بن أبي بكر، فقلت لها: أليس كان رسول الله نهى عن زيارة القبور؟ قالت: نعم: ثم أمر بزيارتها

“Aisyah suatu hari pulang dari pekuburan. Lalu aku bertanya padanya : “Wahai Ummul Mukminin, dari mana engkau?” Ia menjawab : “Dari kubur saudaraku Abdurrahman bin Abi Bakr”. Lalu aku berkata kepadanya : “Bukankah Rasulullah melarang ziarah kubur?” Ia berkata : “Ya, kemudian beliau memerintahkan untuk berziarah” “[9]

Ketujuh: Disebutkan dalam kisah ‘Aisyah yang membuntuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke pekuburan Baqi’ dalam sebuah hadits yang panjang, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah,

كيف أقول لهم يا رسول الله؟ قال: قولي: السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون

“Ya Rasulullah, apa yang harus aku ucapkan kepada mereka (penghuni kubur-ed)?” Rasulullah menjawab, “Katakanlah : Assalamu’alaykum wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang dating kemudian. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian”[10]

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata setelah membawakan hadits ini : “Al Hafizh di dalam At Talkhis (5/248) berdalil dengan hadits ini akan bolehnya berziarah kubur bagi wanita”[11]

Dengan berbagai argumen di atas jelaslah bahwa wanita juga diperbolehkan berziarah kubur asalkan tidak sering-sering. Inilah pendapat sejumlah ulama semisal Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Al ‘Aini, Al Qurthubi, Asy Syaukani, Ash Shan’ani, dan lainnya rahimahumullah.[12]

Hikmah ziarah kubur

Ziarah kubur adalah amalan yang sangat bermanfaat baik bagi yang berziarah maupun yang diziarahi. Bagi orang yang berziarah, maka ziarah kubur dapat mengingatkan kepada kematian, melembutkan hati, membuat air mata menetes, mengambil pelajaran, dan membuat zuhud terhadap dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang berziarahlah karena ziarah dapat melembutkan hati, membuat air mata menetes, dan mengingatkan akhirat. Dan janganlah kalian mengucapkan al hujr[13][14]

Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hikmah dibalik ziarah kubur. Ketika seseorang melihat kubur tepat di depan matanya, di tengah suasana yang sepi, ia akan merenung dan menyadari bahwa suatu saat ia akan bernasib sama dengan penghuni kubur yang ada di hadapannya. Terbujur kaku tak berdaya. Ia menyadari bahwa ia tidaklah hidup selamanya. Ia menyadari batas waktu untuk mempersiapkan bekal menuju perjalanan yang sangat panjang yang tiada akhirnya adalah hanya sampai ajalnya tiba saja. Maka ia akan mengetahui hakikat kehidupan di dunia ini dengan sesungguhnya dan ia akan ingat akhirat, bagaimana nasibnya nanti di sana? Apakah surga? Atau malah neraka? Nas-alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

Selain itu, ziarah kubur juga bermanfaat bagi mayit yang diziarahi karena orang yang berziarah diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada mayit, mendo’akannya, dan memohonkan ampun untuknya. Tetapi, ini khusus untuk orang yang meninggal di atas Islam. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أن النبي كان يخرج إلى البقيع، فيدعو لهم، فسألته عائشة عن ذلك؟ فقال: إني أمرت أن أدعو لهم

“Nabi pernah keluar ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. Maka ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab : “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo’akan mereka””[15]

Adapun jika mayit adalah musyrik atau kafir, maka tidak boleh mendo’akan dan memintakan ampunan untuknya berdasarkan sabda beliau,

زار النبي قبر أمه. فبكى, وأبكى من حوله، فقال: استأذنت ربي في أن أستغفر لها، فلم يؤذن لي، واستأذنته في أن أزور قبرها فأذن لي، فزوروا القبور فإنها تذكر الموت

“Nabi pernah menziarahi makam ibu beliau. Lalu beliau menangis. Tangisan beliau tersebut membuat menangis orang-orang disekitarnya. Lalu beliau bersabda : “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengizinkannya. Dan aku meminta izin untuk menziarahi makam ibuku, maka Dia mengizinkannya. Maka berziarahlah kalian karena ziarah tersebut dapat mengingatkan kalian kepada kematian[16]

Maka ingatlah hal ini, tujuan utama berziarah adalah untuk mengingat kematian dan akhirat, bukan untuk sekedar plesir, apalagi meminta-minta kepada mayit yang sudah tidak berdaya lagi.

Adab Islami ziarah kubur

Agar berbuah pahala, maka ziarah kubur harus sesuai dengan tuntunan syari’at yang mulia ini. Berikut ini adab-adab Islami ziarah kubur :

Pertama: Hendaknya mengingat tujuan utama berziarah

Ingatlah selalu hikmah disyari’atkannya ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran dan mengingat kematian.

Imam Ash Shan’ani rahimahullah berkata : “Semua hadits di atas menunjukkan akan disyari’atkannya ziarah kubur dan menjelaskan hikmah dari ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran seperti di dalam hadits Ibnu Mas’ud (yang artinya: “Karena di dalam ziarah terdapat pelajaran dan peringatan terhadap akhirat dan membuat zuhud terhadap dunia”. Jika tujuan ini tidak tercapai, maka  ziarah tersebut bukanlah ziarah yang diinginkan secara syari’at”[17]

Kedua: Tidak boleh melakukan safar untuk berziarah

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah melakukan perjalanan jauh (dalam rangka ibadah, ed) kecuali ke tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha”[18]

Ketiga: Mengucapkan salam ketika masuk kompleks pekuburan

“Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan mereka (para shahabat) jika mereka keluar menuju pekuburan agar mengucapkan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”[19]

Keempat: Tidak memakai sandal ketika memasuki pekuburan

Dari shahabat Basyir bin Khashashiyah radhiyallahu ‘anhu : “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seseorang sedang berjalan diantara kuburan dengan memakai sandal. Lalu Rasulullah bersabda,

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ» فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

“Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!” Lalu orang tersebut melihat (orang yang meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau orang itu adalah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia melepas kedua sandalnya dan melemparnya”[20]

Kelima: Tidak duduk di atas kuburan dan menginjaknya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur”[21]

Keenam: Mendo’akan mayit jika dia seorang muslim

Telah lewat haditsnya di footnote no. 14. Adapun jika mayit adalah orang kafir, maka tidak boleh mendo’akannya.

Ketujuh: Boleh mengangkat tangan ketika mendo’akan mayit tetapi tidak boleh menghadap kuburnya ketika mendo’akannya (yang dituntunkan adalah menghadap kiblat)

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau mengutus Barirah untuk membuntuti Nabi yang pergi ke Baqi’ Al Gharqad. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di dekat Baqi’, lalu mengangkat tangan beliau untuk mendo’akan mereka.[22] Dan ketika berdo’a, hendaknya tidak menghadap kubur karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan. Sedangkan do’a adalah intisari sholat.

Kedelapan: Tidak mengucapkan al hujr

Telah lewat keterangan dari Imam An Nawawi rahimahullah bahwa al hujr adalah ucapan yang bathil. Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan : “Tidaklah samar lagi bahwa apa yang orang-orang awam lakukan ketika berziarah semisal berdo’a pada mayit, beristighotsah kepadanya, dan meminta sesuatu kepada Allah dengan perantaranya, adalah termasuk al hujr yang paling berat dan ucapan bathil yang paling besar. Maka wajib bagi para ulama untuk menjelaskan kepada mereka tentang hukum Allah dalam hal itu. Dan memahamkan mereka tentang ziarah yang disyari’atkan dan tujuan syar’i dari ziarah tersebut”[23]

Kesembilan: Diperbolehkan menangis tetapi tidak boleh meratapi mayit

Menangis yang wajar diperbolehkan sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis ketika menziarahi kubur ibu beliau sehingga membuat orang-orang disekitar beliau ikut menangis. Tetapi jika sampai tingkat meratapi mayit, menangis dengan histeris, menampar pipi, merobek kerah, maka hal ini diharamkan.

Rambu-rambu untuk para peziarah

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan ziarah kubur ini agar ziarah kubur yang dilakukan menjadi amalan shalih, bukan menyebabkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala :

  • Hikmah disyari’atkannya ziarah kubur adalah untuk mengambil pelajaran dan mengingat akhirat, bukan untuk tabarruk kepada mayit meskipun dia dahulu orang sholeh. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan : “(Hendaknya) tujuan ziarahnya adalah untuk mengambil pelajaran, nasihat, dan mendo’akan mayit. Jika tujuannya adalah untuk tabarruk dengan kubur,  atau melakukan ritual penyembelihan di sana, dan meminta mayit untuk memenuhi kebutuhannya dan mengeluarkannya dari kesulitan, maka ini ziarah yang bid’ah lagi syirik[24]
  • Tidak boleh mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah karena hal itu tidak ada dalilnya. Kapan saja ziarah itu dibutuhkan, maka berziarahlah. Ingatlah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Diantara hal yang tidak ada tuntunannya juga adalah kebiasaan menabur bunga di atas kuburan. Penta’liq Matan Abi Syuja’ –kitab fikih madzhab syafi’i- berkata : “Diantara bid’ah yang diharamkan adalah menaburkan/meletakkan bunga-bunga di atas jenazah atau kubur karena hanya buang-buang harta”[25]

Selesailah pembahasan tentang ziarah kubur ini. Semoga  Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan amal ini sebagai amalan yang memberatkan timbangan kebaikan di hari perhitungan kelak  dan memberikan manfaat kepada kaum muslimin dengannya. Aamiin. Wallahu Ta’ala a’lam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘aalamin.

 

Penulis: Yananto

Artikel www.muslim.or.id

Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Koruptor Musuh Besar Indonesia

Posted by Ahmad Farisi on 5 July 2008

Korupsi, kata-kata ini sudah tidak asing lagi di telinga kita, bahkan sudah sangat membosankan, karena korupsi inilah perekonomian Indonesia jatuh –kalau tidak boleh dikatakan hancur-, sitikus kantor yang tidak pernah bosan menggerogoti lumbung Negara, membuat bangsa ini semakin bangkrut. Coba bayangkan, untuk kasus aliran dana BI saja Negara dirugikan sekitar 100 miliar, padahal masih banyak rakyat ini yang kekurangan. Ironisnya, meskipun KPK telah bekerja siang malam ternyata tidak membuat jera koruptor untuk berbuat dosa, kira-kira apakah penyebabnya? Mungkinkah penyebabnya adalah masih kurangnya ketegasan hukum di negara kita sehingga tikus-tikus itu masih bisa berkeliaran, ataukah mungkin hukuman bagi koruptor yang kurang berat? Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

CARA MENGUBAH WAKTU LUANG MENJADI PRODUKTIF

Posted by Ahmad Farisi on 30 June 2008

Cara Mengubah Waktu Luang Menjadi Produktif

Ujian term dua telah usai, yang berarti masisir akan berhadapan dengan liburan yang super panjang, (emangnya kereta, panjang)? Ya.. selama tiga bulan penuh. Kebanyakan mereka nampak lebih berseri-seri dan lebih santai, dimana sebelumnya kelihatan kucel, mungkin karena kelelahan atau kurang tidur setelah hampir sebulan berkutat dengan muqarrar, akan tetapi, bagi sebagian yang lain justru muncul perasaan kurang PeDe atau cemas dengan hasil ujian mereka, khawatir kalau nantinya rasyib, tidak lulus. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi, karena kekhawatiran, cemas dan pesimis terhadap hasil ujian tidak akan merubah keadaan menjadi lebih baik, tetapi justru malah akan mematikan kreativitas kita. so lupakanlah yang telah berlalu karena ia telah meninggalkan kita dan takkan bisa kembali lagi.

Berbicara mengenai waktu, saya teringat Dr.Muchlis Muhammad hanafi, ia pernah menulis: “bahwa waktu atau masa dalam Al-Qur’an diungkapkan dengan kata “al-ashr” yang mengesankan bahwa waktu adalah sesuata yang harus “diperas” agar menghasilkan saripati kehidupan yang berharga, sayang sekali kalau waktu kita terbuang dengan sia-sia, apalagi bagi thalibul ilmi di negri para nabi, karena waktu lebih berharga daripada emas”.

Sekarang tinggal bagaimna caranya kita mengalihkan waktu yang sia-sia menjadi produktif? itu adalah tanggung jawab kita !! disini ada beberapa problem yang sering terjadi pada diri kita dan sangat menguras waktu, antara lain:

1- MENUNGGU

pekerjaan ini selain menguras waktu adalah membosankan, hampir tidak ada orang didunia ini yang mempunyai hoby menunggu, memang menunggu sudah menjadi bagian dari kehidupan kita dan suatu hal yang biasa, khususnya menunggu bis bagi masisir, apalagi -maaf lho– bagi para penunggu setia bis bernopol delapan puluh coret. pokoknya kalau tidak pandai-pandai mengatur waktu, umur kita bakal habis di alam penantian. terus solusinya…???

– Pastikan kalau anda hendak pepergian untuk tidak lupa membawa buku bacaan atau mushaf atau apa saja deh yang bisa anda pergunakan ketika anda sedang menunggu, atau barang kali anda lupa sama sekali untuk membawa sesuatu, maka tengoklah ke sekeliling anda, carilah teman dan ajaklah ia berbincang-bincang, kalau tidak ada juga, maka anda bisa mengajak orang lain untuk berkenalan, dengan demikian berarti anda telah mengisi waktu senggang dan sia-sia menjadi waktu yang penuh manfaat, anda telah mampu mengusir rasa bosan, anda telah memanfaatkan waktu yang terbuang menjadi produktif, yaitu dengan memperlus wawasan anda, menguatkan hapalan Al-Quran atau sekedar menjalin persahabatan baru.

2- TIDUR PANJANG

tidur juga salah satu penyita waktu kita, ini merupakan problem yang serius bagi masisir, (masisir lagi, emangnya siapa sih masisir)? Masisir itu, Mahasiswa Indonesia di Mesir, udah ga bingung khan? Coba bayangkan apabila kita tidur sehari semalam delapan jam, mka dalam jangka satu tahun sudah berapa jam waktu yang kita gunakan untuk tidur…?? apalagi kalau ada tidur tambahan seperti musim panas sekarang ini. sebenarnya tidur sehari semalam 8 jam itu masih setandar bagi orang biasa tetapi bukan untuk ukuran mahasiswa, pelajar maupun entrepreneur. Mulai sekarang hindarilah tidur panjang, jangan habiskan umur kita hanya dengan tidur saja. caranya….???

-Buatlah program unggulan dan perencanaan yang ketat, dan tepatilah jadwal perencanaan itu jangan sampai digunakan untuk tidur, tanyakanlah pada diri sendiri, apakah saya bisa mengurangi jam tidur?.

-Berusahalah bangun lebih pagi dari biasanya, manfaatkanlan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Mengurangi jam tidur sepuluh menit setiap harinya tidak akan mengganggu kesehatan kita. setelah kita sukses dengan sepuluh menit, maka cobalah tambah sampai 20, 30, atau 40 menit. maka dalam waktu satu tahun kita telah memanfaatkan sedikitnya 10800 menit atau 180 jam penuh dari jam tidur kita yang terbuang, dan itu kalau kita konsisten untuk mengurangi jam tidur 30 menit dalam sehari semalam.

Ini ada contoh teladan, seorang mahasiswa S2 Al-Azhar yang sudah menikah selalu bangun 1 jam lebih awal sebelum istri tercinta dan anak-anaknya bangun, ia gunakan jam itu untuk belajar dan menulis tesisnya, setelah itu ia bangunkan seluruh anggota keluarganya untuk shalat berjamaah. Wah… siapa yah?

3- PERTEMUAN YANG TIDAK TERATUR

Pertemuan-pertemuan dapat menguras waktu kita sampai berjam-jam, apalagi sebuah diskusi atau kajian yang tidak mempunya batas waktu mulai dan berakhir dengan tepat, hal ini masih sering kita temukan pada mahasiswa kita khususnya masiko, yang paling sering adalah memajukan jadwal hingga 2-3 jam dari acara itu dimulai, kita sebenarnya bisa menghindari pertemuan-pertemuan yang sering menyita waktu dan kurang bermanfaat dengan cara:

– Memfokuskan mata acara yang akan kita perbincangkan, pilihlah pertemuan yang memang relevan dengan kita dan tugas kita nantinya, (emangnya kita ini ingin jadi apaan sech)? Bebaskanlah kita dari pertemuan-pertemuan yang kurang greget.-Usahakan jalannya pertemuan itu dengan lancar dan rapi, jagalah agar pertemuan itu mulai dan berakhir tepat pada jamnya.

– Jika anda menghadiri sebuah pertemuan yang pembahasannya ngalor-ngidul dan bertele-tele, sebaiknya anda ijin dengan sopan dan tinggalkanlah pertemuan itu.

4- HIBURAN YANG MELENAKAN

Mungkin sebagian mahasiswa ada yang beranggapan bahwa musim libur adalah waktu untuk mencari hiburan sepuas-puasnya, akan tetapi -saya percaya- bahwa kebanyakan mereka tidak begitu, mereka lebih menganggap bahwa musim libur merupakan ajang kreatifitas dan pengembangan potensi diri, walau demikian banyak juga mahasiswa yang terlena dengan hiburan, apalagi yang dirumahnya ada pesawat televisi, internet atau alat elektronik lainnya.

Tapi sebenarnya semua itu bisa diatur dengan baik, bahkan sangat bermanfaat apabila digunakan dengan baik. Caranya?

– Menggunakan alat elektronik itu sebagai bahan pendorong kreatifitas dan bukannya sekedar menghabiskan waktu percuma.

– Hanya menyetel televisi pada acara-acara yang paling kita sukai, terutama yang ada sangkut pautnya dengan kepentingan kita.

– Tidak menyetel televisi pada jam-jam aktifitas kita, akan tetapi putarlah tombol ketika kita sedang santai, dan itupun harus dibatasi waktunya.

5- MENGOBROL DI TELPON

Pada mulanya alat elektronik ini adalah alat penyingkat waktu terbesar yang pernah ditemukan oleh anak cucu Adam as, akan tetapi belakangan ini, alat elektronok ini sering membuat bingung dan frustasi bagi sebagian orang, khususnya para pengusaha, kaum adam, para aktivis dan mahasiswa.

banyak sekali orang yang dirampas waktunya hanya karena mengurusi benda mungilnya yang sering berdering, kalau kita melihat mahasiswa yang disini saja, kita juga akan mendapati banyak mahasiswa yang merasa terganggu dengan telpon, apalagi di hari-hari ujian, yang untuk mengangkat saja kelihatannya kurang berselera. terus bagaimana mengatasinya agar waktu kita tidak banyak terbuang gara-gara telpon…? apakah kita harus menyingkirkannya dari kehidupan kita? tidak…! karena talpon banyak membantu kita dalam menghemat waktu, tetapi ada sesuatu yang perlu kita diperhatikan sebagai berikut:

– Tidak menelpon kecuali memang benar-benar penting, apalagi hanya sekedar iseng daripada menganggur.

– Jauhilan anda dari mujamalah yang terlalu panjang, terkadang karena telah terkontaminasi dengan adat disini, banyak mahasiswa yang hanya untuk menanyakan tahdid saja mukadimahnya sampai 5 menit, masih mending kalau mukadimahnya hanya sekedar bertanya kaifa haluk…. antum sehat..?? itu masih setandar wajar dan dianjurkan, walaupun jawabannya anda pasti sudah tahu “alhamdulillah bikhair” atau baik, tetapi kalau sudah memasuki masalah musim dan perubahan cuaca, maka itu akan semakin panjang lagi.

– Batasilah diri anda dari pembicaraan lewat telpon. kalau memang 5 menit sudah cukuip maka tidak usak diperpanjang lagi, karena waktu sangat berharga.

Mulai sekarang marilah kita menghargai waktu sebagaimana kita menghargai diri kita sendiri, karena waktu adalah kehihupan. Wallahu a’lam.

** Kairo di musim panas**

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Berbagi Bisa Mencegah Frustasi

Posted by Ahmad Farisi on 18 June 2008


Seringkali jika kita sedang dilanda kesusahan atau kegembiraan, perasaan dalam jiwa sudah pasti tak menentu.

Nah..kalau sudah begitu, cara yg paling efektif untuk mengungkapkan segala kegundahan,amarah,emosi serta perasaan yg menggebu, adalah degan menceritakannya kepada orang lain (org terdekat, sahabat, ortu, tunangan, kakak-adik bahkan istri/suami) dan kegiatan yang seperti ini dinamakan sharing / berbagi / curhat (curahan hati).

Biasanya dari curhatan, kita mendapatkan kata-kata, ungkapan atau jawaban yang simpel tapi mengandung banyak arti (DALEM aja gitu :red)

Dan dari curhatan pula, ‘paling tidak’ kita merasa lega karena sudah membagikan ‘beban atau perasaan gembira’ kita kepada orang tersebut.

Tapi juga jangan sembarang curhat pada seseorang..
Thats way pentingnya Pilah-pilah teman dekat..
Teman yg bisa kita ajak buat sharing, pasti-lah orang yg sudah sangat kita percaya dan kita tahu traderecord-nya, bahwa dia pun bisa menjaga kerahasiaaan.

Karena Kepercayaan itu sangat mahal harganya.

Menurut ilmu kesehatan, curhat (sharing) adalah cara yg sangat ampuh dalam menumbuh kembang jiwa seserang (thats why, kenapa juga anak kecil lebih dekat dengan ibu-nya), selain itu..cara yang sangat aman..dalam memperbaiki kondisi psikologi seseorang. Karena dengan sharing bisa memperkecil kemungkinan seseorang terkena penyakit stress.

Memang jika ‘dunia’ kita sedang berada di atas puncak, kata-kata tersebut tak pernah sekalipun terpikirkan..

Dan disaat keadaan ‘dunia’ kita berputar berada di garis lebam, maka kalimat tersebut pasti akan jelas sekali terngiang-ngiang di pikiran, hati serta pandangan kita untuk lebih berhati-hati lagi dalam pengambilan suatu keputusan..
Hehe..salah-salah ambil yang ada malah bisa-bisa seisi ‘dunia’ kita berantakan..
Na’uzubillahi mindzalik..

Hmm..yang enak..
Disaat kita sadar bahwa ‘dunia’ kita sedang berada pada tahap stabil dan seimbang..
Karena dengan demikian, kita bisa mengambil sebuah keputusan dengan lebih rilexs dan menjadi lebih gampang memilah antara hubungan sebab-akhibat, yaitu hal mana yang akan berakibat negatif dan mana yang positif.

So..coba deh..
gak ada salahnya juga bila sedari sekarang, kita ‘mulai’ mengingat kembali dan bertanya kepada diri kita masing-masing..

“Apa sih yg ia coba sampaikan ke saya ?! ”

Dan terkadang, komentar serta kritikan yg sangat pedas serta menyakitkan, bisa memacu diri kita untuk bisa menunjukkan ‘meng-ekspose’ kualitas dalam diri, karena kita tidak mau orang lain meremehkan kita..

Hehehe..biar gak sakit hati…
Anggap saja itu hanya angin lalu,
Kalau dalam pribahasa :
Kucing menggonggong, kafilah tetap berlalu..’ (emang kucing bisa menggonggong???)

Yaaah..
Memang, ada kala-nya kita harus bisa dan mau belajar untuk mendengarkan..

Pelajaran kali ini..
Jujur pada diri sendiri, berbagi dan mendengar (karena kita hidup di dunia ini, bukan hanya sendiri..)


* Sudahkan kita sharing, hari ini?

Taken from:

*** Kartika Retno Purwani dengan sedikit perubahan.


Posted in Uncategorized | 2 Comments »

apa kabar dunia?

Posted by Ahmad Farisi on 9 March 2008

Posted in Uncategorized | 1 Comment »