Catatan Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo

Never too old to learn and to do

Argumentasi Qur’an Only

Posted by Ahmad Farisi on 11 December 2015

pohonSebagai suatu paham atau aliran, Qur’an Only ( ingkar as-sunnah) klasik ataupun modern memiliki argument-argumen yang dijadikan landasan mereka. Tanpa argument-argumen itu, pemikiran mereka tidak berpengaruh apa-apa. Argument mereka antara lain :

1. Agama bersifat konkrit dan pasti. Mereka berpendapat bahwa agama harus dilandaskan pada hal yang pasti. Apabila kita mengambil dan memakai hadits, berarti landasan agama itu tidak pasti. Al-quran yang kita jadikan landasan agama itu bersifat pasti. Sementara apabila agama islam itu bersumber dari hadits , ia tidak akan memiliki kepastian karena hadits itu bersifat dhanni (dugaan), dan tidak sampai pada peringkat pasti.

2. Al-Quran sudah lengkap.
Jika kita berpendapat bahwa al-quran masih memerlukan penjelasan, berarti kita secara jelas mendustakan al-quran dan kedudukan al-quran yang membahas segala hal dengan tuntas. Oleh karena itu, dalam syariat Allah tidak mungkin diambil pegangan lain, kecuali al-quran.

BANTAHAN:
Ternyata argumen yang dijadikan sebagai dasar pijakan bagi para pengingkar sunnah memiliki banyak kelemahan. Dan kalau kita mau mempelajari Al Qur’an secara mendalam dan komprehensif, maka kita akan mudah menemukan kelemahan argumentasi mereka dan sangat mudah membantahnya.

– Bantahan no 1. Jika agama harus dilandaskan pada hal yang pasti dan konkrit, tentu Allah tidak akan membuat syariat tentang diterimanya persaksian dari seorang saksi.
Kenyataanya ayat-ayat tentang saksi banyak kita temukan di Al Qur’an.

Contohnya adalah saksi bagi orang yang menuduh seseorang telah berbuat zina.
Persaksiannya bisa diterima jika ia bisa menghadirkan 4 orang saksi lainnya. Namun jika tidak bisa menghadirkan 4 orang saksi, maka dia yang akan mendapatkan hukuman.

(4). وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚوَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik”

Bahkan pada ayat ke 6, persaksian dari seseorang bisa diterima jika ia bersumpah 4X atas nama Allah.

(6). وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا أَنْفُسُهُمْ فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ بِاللَّهِ ۙإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ

“Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang yang benar”

Pertanyaanya:
Apakah persaksian seseorang sudah pasti benar dan konkrit?

Jawabnya adalah: “Belum tentu benar. Jadi ia masih bersifat dhanni (dugaan), karena bisa saja seorang saksi itu berdusta atau membuat saksi palsu.
Namun Allah tetap menerima kesaksian seseorang jika syaratnya terpenuhi. Artinya landasan agama tidak selalu harus bersifat pasti dan konkrit.

– Bantahan no 2. Argumen Qur’an Only yang mengatakan bahwa Al Qur’an tidak butuh penjelasan, ini lebih lemah lagi dari argumen no 1. Bahkan argumen ini bertentangan dengan Al Qur’an itu sendiri dan realita yang ada.

Al Qur’an mengatakan bahwa Allah mengutus seorang Rasul adalah untuk menjelaskan kepada kaum yang didakwahi. Itu artinya Al Qur’an perlu dijelaskan oleh seorang Rasul agar dipahami oleh umatnya.

Secara realita banyak kita temukan ayat Al Qur’an yang masih membutuhkan penjelasan di luar Qur’an. Seperti contohnya adalah ayat tentang 4 bulan Haram.

Bahkan bagi penganut Qur’an Only yang sudah merasa paham dengan Al Qur’an melalui terjemahan. Perlu diketahui, bahwa penterjemah itu sendiri dalam menterjemahkan Al Qur’an memerlukan ilmu tafsir dan disiplin ilmu lainnya. Dan setidaknya hasil terjemahannya itu sudah dipengaruhi oleh wawasan sang penterjemah. Jadi tidak sekedar memindahkan kata per kata dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia.

Mengenai tugas Rasul untuk memberi penjelasan, Allah SWT berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia-lah Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana” (QS Ibrahim, 14: 4)

Wallahu a’lam bis shawaab…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: