Catatan Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo

Never too old to learn and to do

Polemik Shalat Tiga Waktu

Posted by Ahmad Farisi on 3 October 2015

RAMADHAN KAREEEMYang perlu kita ingat selalu, perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Kita tidak bisa memaksakan orang lain harus sama dengan apa yang kita yakini, begitupun sebaliknya.

Mengenai polemik shalat tiga waktu, kalau boleh saya katakan, “Klasik yo ora, tapi nek dianggap anyar, kok yo klasik”heheโ€ฆ๐Ÿ˜€

Maksud saya, polemik ini tidak dianggap klasik karena tidak ada sejarahnya bahwa ada seorang muslim yang menolak shalat 5 waktu, sejak zaman Rasul, sahabat hingga generasi tabiut tabi’iin. Namun juga bukan dianggap baru, karena polemik seperti ini sudah cukup lama muncul.

Kemudian dari permasalahan shalat tiga waktu tersebut, selanjutnya mengerucut lagi menjadi pembatasan bilangan shalat, yaitu hanya 3X saja dalam sehari semalam, yang terdiri dari 1. Shalat Fajr, 2. Shalat Isya dan 3. Shalat Wustha, ย berdasarkan beberapa dalil Al Qur’an.

Berikut adalah dalil-dalil untuk shalat 3 kali berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an:

  1. (QS. An-Nur: 58)

ย “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum shalat fajr, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

  1. (QS. Huud: 114)

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”

  1. (QS al-Baqarah: 238)

Jagalah shalat-shalat tersebut dan salat al-wustha (Pertengahan).”

Menurut pendukung shalat tiga kali, bahwa shalat yang benar berdasarkan Al Qur’an adalah tiga kali saja yaitu Shalat Fajr, Shalat Isya dan Shalat Wustha. Meskipun ada nama-nama lain yang umum digunakan untuk shalat seperti Dzuhur yang berarti tengah hari, Ashr yang berarti masa/waktu dan Maghrib yang berarti Barat tercantum di dalam Al Qur’an, namun tidak satupun dari nama-nama tersebut yang berhubungan dengan shalat ataupun dengan waktu shalat.

Mari sekarang kita mengkaji Al Qur’an. Benarkan Al Qur’an telah membatasi shalat hanya pada tiga waktu dan tiga kali saja dalam sehari semalam?

Dalil Pertama:

Coba kita cermati QS. An-Nur: 58 yang sering dijadikan dalil untuk mebatasi shalat hanya 3X saja.

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ู„ููŠูŽุณู’ุชูŽุฃู’ุฐูู†ู’ูƒูู…ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู…ูŽู„ูŽูƒูŽุชู’ ุฃูŽูŠู’ู…ูŽุงู†ููƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุจู’ู„ูุบููˆุง ุงู„ู’ุญูู„ูู…ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุซูŽู„ูŽุงุซูŽ ู…ูŽุฑู‘ูŽุงุชู ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ูˆูŽุญููŠู†ูŽ ุชูŽุถูŽุนููˆู†ูŽ ุซููŠูŽุงุจูŽูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุธู‘ูŽู‡ููŠุฑูŽุฉู ูˆูŽู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ุนูุดูŽุงุกู ุซูŽู„ูŽุงุซู ุนูŽูˆู’ุฑูŽุงุชู ู„ูŽูƒูู…ู’ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ูˆูŽู„ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูู…ู’ ุฌูู†ูŽุงุญูŒ ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุทูŽูˆู‘ูŽุงูููˆู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุจูŽุนู’ุถููƒูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุจูŽุนู’ุถู ูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ูŠูุจูŽูŠู‘ูู†ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽูƒูู…ู ุงู„ู’ุขูŽูŠูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ููŠู…ูŒ ุญูŽูƒููŠู…ูŒย  (ุณูˆุฑุฉ ุงู„ู†ูˆุฑ: 58)

” “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum shalat fajr, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nur: 58)

Pendukung shalat 3X yang sering menyebut dirinya Qur’anist ternyata telah keliru memahami QS. An-Nur: 58. Ayat di atas sama sekali tidak sedang membatasi nama-nama shalat, akan tetapi sedang menjelaskan 3 waktu aurat, yaitu waktu dimana seorang budak dan anak yang sudah baligh diperintahkan untuk meminta izin jika hendak memasuki kamar pribadi seseorang.

Dan inilah ketiga waktu yang Allah perintahkan agar kita memerintahkan anak-anak kecil untuk izin terlebih dahulu jika hendak memasuki kamar pribadi orang tuanya. Karena ini merupakan waktu-waktu seorang hanya berpakaian seadanya dan waktu berganti pakaian.

Adapun penyebutan kata shalat, seperti:

ู…ูู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ู ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู

Sebelum shalat Fajr

Dan

ูˆูŽู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏู ุตูŽู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ุนูุดูŽุงุกู

Setelah shalat Isya

Bukanlah merupakan pembatasan nama-nama shalat. Akan tetapi terkait dengan nama waktu. Dimana pada zaman itu belum ada jam tangan atau jam dinding yang digunakan sebagai patokan waktu saat orang membuat janji, seperti “nanti kita ketemuan di rumah si A pkl 20:00 atau pukul 11.00” akan tetapi yang biasa dilakukan saat orang membuat janji pada waktu itu akan menggunakan patokan waktu shalat, seperti: “nanti kita ketemuan di rumah si A ba’da shalat Isya atau sebelum shalat dzuhur” Kebiasaan seperti inipun hingga sekarang masih dilakukan walaupun setelah adanya jam yang dijadikan patokan waktu.

Dalil Kedua:

ูˆูŽุฃูŽู‚ูู…ู’ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงุฉูŽ ุทูŽุฑูŽูููŠ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ูˆูŽุฒูู„ูŽูุงู‹ ู…ูู†ู’ ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชู ูŠูุฐู’ู‡ูุจู’ู†ูŽ ุงู„ุณู‘ูŽูŠู‘ูุฆูŽุงุชู ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฐููƒู’ุฑูŽู‰ ู„ูู„ุฐู‘ูŽุงูƒูุฑููŠู†ูŽ

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bahagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (QS. Huud: 114)

  1. Huud:114 ini juga sering dijadikan dalil oleh sebagian orang yang mengaku Qur’anits untuk mendukung ideologinya bahwa shalat hanya terbatas pada tiga waktu dan tiga kali saja.

Pada ayat di atas disebut kedua tepi siang dan bahagian permulaan malam. Menurut mereka, yang dimaksud kedua tepi siang adalah Fajr sebagai tepi pertama dan Maghrib sebagai tepi kedua.

Namun menurut yang lain, bahwa yang dimaksud kedua tepi siang adalah Farj dan Ashr. Ashr merupakan tepi siang ke dua, sedangkan Maghrib sebagai permulaan malam. Karena permulaan malam ditandai dengan terbenamnya matahari, yang mana terjadi pada waktu Maghrib. Maghrib itu sendiri berasal dari kata ghoroba yang berarti terbenam. Kemudian Maghrib juga bermakna Barat, karena tempat terbenamnya matahari itu berada disebelah barat. Begitu juga kata masyriq yang berarti tempat munculnya matahari juga dijadikan nama arah, yaitu Timur.

Dalil Ketiga:

ุญูŽุงููุธููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ุงู„ู’ูˆูุณู’ุทูŽู‰ูฐ

Jagalah shalat-shalat tersebut dan salat al-wustha (pertengahan)” (QS al-Baqarah: 238).

Kataย shalawatย (shalat-shalat) pada ayat di atas berbentuk plural yang dalam bahasa Arab berjumlah tiga atau lebih. Kemudian ia ditambah dengan shalat wusthoย (shalat pertengahan). Jadi kalau mencermati ayat di atas berarti Allah paling tidak menyuruh untuk menjaga minimal empat shalat. Yaitu 3 shalat atau lebih (shalat-shalat) dan 1 shalat wustha. 3+1=4

Saya kasih contoh kaedah bahasa Arab:

ูƒุชุงุจ=(mufrod) satu kitab

ูƒุชุงุจุงู†= (mutsana) dua kitab

ูƒุชุจ= plural) tiga kitab atau lebih)

Contoh satu lagi:

ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู=(murfod) satu shalat

ุตู„ุงุชุงู†= mutsana) dua shalat)

ุตูŽู‘ู„ูŽูˆูŽุงุชู= (plural) tiga shalat atau lebih

Kemudian kata wustha atau pertengahan itu sendiri tidak dijelaskan di dalam Al Qur’an, apakah itu pertengahan waktu atau pertengahan shalat. Namun kata pertengahan menunjukkan posisinya berada di tengah. Jika ia merupakan pertengahan shalat, dan jika hanya ada empat shalat, maka tidak ada yang ditengah. Sehingga agar ada yang peris di tengah berarti minimal jumlahnya lima. Dari sini saja dapat diketahui kelemahan logika mereka yang mengatakan bahwa shalat hanya dua waktu, tiga waktu dan seterusnya. Ini secara logika sesuai dengan tata bahasa Arab yang ada.

Namun jika yang dimaksud pertengahan (wustha) itu berkaitan dengan waktu, mereka juga masih terus berselisih tentang kapan waktu didirikannya shalat wustha?

Sebagian mereka menganggap bahwa waktu shalat wushta adalah Maghrib, namun sebagian yang lain menganggap pertengahan malam, dzuhur dan ada juga yang menganggap bahwa shalat wustha adalah pada waktu ashar.

Jika melihat perselisihan mereka seperti itu, maka sebenarnya waktu-waktu shalat yang 5 sudah disebutkan semuanya, mulai dari Fajr, Dzuhur, Ashr, Maghrib dan Isya.

Kemudian sekarang mari kita lihat dalil waktu shalat yang lain. Allah berfirman:

ุฃูŽู‚ูู…ู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉูŽ ู„ูุฏูู„ููˆูƒู ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ุฅูู„ูŽู‰ ุบูŽุณูŽู‚ู ุงู„ู„ู‘ูŽูŠู’ู„ู ูˆูŽู‚ูุฑู’ุกูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ุฅูู†ู‘ูŽ ู‚ูุฑู’ุกูŽุงู†ูŽ ุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู ูƒูŽุงู†ูŽ ู…ูŽุดู’ู‡ููˆุฏู‹ุง

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan Qur`anal fajri. Sesungguhnya Qur`anal fajri itu disaksikan” (QS. Al-Isra`: 78)

Makna Lid-Duluk As Syams adalah setelah tergelincir matahari. Yang mana ia adalah waktu dzuhur dan ashr. Namun ada sebagian yang berpendapat bahwa makna duluk itu dari tergelincir matahari pada waktu dzuhur hingga waktu Maghrib. Dan makna ila ghasaqil lail adalah sampai gelap malam. Jadi pelaksanaan shalat dimulai dari tergelincirnya matahari pada siang hari hingga gelap malam dan juga waktu fajr.

Ayat tersebut di atas bukanlah pembatasan untuk 3 waktu shalat saja, melainkan menjelaskan waktu shalat yang dimulai dari setelah tergelincirnya matahari hingga gelap malam. Dan dari antara tergelincirnya matahari hingga gelap malam, seseorang bisa melakukan 1, 2 atau 3 shalat. Tidak ada yang membatasi.

Demikianlah yang saya pahami dari dalil Al Qur’an mengenai waktu-waktu shalat. Ada satu catatan yang paling mendasar yang ingin saya sampaikan adalah “sepandai-pandainya kita membaca dan atau menafsirkan ayat-ayat Al Qurโ€™an, sudah barang tentu pemahaman kita masih jauh dibawah penafsiran Nabi Muhammad saw”

Wallahu a’lam bis shawaabโ€ฆ

One Response to “Polemik Shalat Tiga Waktu”

  1. agoesman said

    Mantapsss eeei….pa khabar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: