Catatan Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo

Never too old to learn and to do

7 Langkah Jitu Agar Orang Ingkari Hadits

Posted by Ahmad Farisi on 1 October 2015

sujud2Mungkin kita pernah bertanya, apa sih hadits itu? Apa manfaat hadits dan kenapa Umat Islam menjadikan Hadits sebagai rujukan dalam menentukan hukum setelah Al Qur’an?

Ibarat pepatah kuno, “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak dikawinkan”heu heu… Ops!😀

Jika seseorang hanya melihat sisi baiknya hadits, maka ia tak akan pernah sadar bahwa hadits yang sering ia sebut pada setiap ceramah, ternyata adalah hadits palsu bin mungkar yang tidak ada asal usulnya dari Rasulullah saw. Bahkan hadits semacam itu berpotensi bisa merusak aqidah Umat Islam.

Begitupun sebaliknya, jika seseorang sudah terbiasa melihat sisi buruknya hadits, maka apapun yang dikatakan, selama ia berasal dari hadits, akan diingkarinya mati-matian. Walaupun dalam kehidupan sehari-hari ternyata tanpa sadar ia sebenarnya telah mempraktekkan hadits tersebut.

Berikut adalah 7 langkah agar orang ingkari hadits:

  1. Carilah hadits-hadits palsu yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Akal, lalu kritik lah matan hadits tersebut dengan ulasan yang sedikit ilmiyah, lalu benturkan hadits tersebut dengan ayat-ayat Al Qur’an. Dengan demikian, orang bisa geleng-geleng kepala keheranan. Bagi yang dari awalahnya sudah terbiasa mengingkari hadits, ia akan tertawa girang, namun bagi yang sebelumnya mengakui hadits sebagai hujjah (argumen), ia akan merasa down dan kecewa.
  1. Hadirkan hadits-hadits Masyhur yang dianggap shahih, namun bertentangan dengan tradisi zaman sekarang atau dirasa bertentangan dengan logika.

Contohnya adalah hadits “perintah meminum kencing onta untuk menyembuhkan penyakit”, pernikahan Rasul dengan Aisyah, dan berkumpul dengannya saat ia masih baru berumur 9 tahun. Atau hadits “tawar menawar jumlah shalat wajib saat Rasul Isra’ Mi’raj” dll

Hadits-hadits di atas cukup ampuh untuk membuat orang alergi terhadap hadits.

Sebenarnya… mengenai hadits Rasul perintah meminum air kencing onta sebagai obat, telah sering dijadikan olok-olokan oleh kaum orientalis untuk menyerang Islam dan Rasulullah saw. Namun itu dulu. Sekali lagi itu dulu ya, saat belum ada penelitian dan belum ditemukan bukti bahwa ternyata “air seni” atau urin itu benar-benar bisa dijadikan obat untuk berbagai penyakit.

Silahkan baca manfaat urin atau air kencing pada link berikut:5-manfaat-mengejutkan-dari-urine

http://www.tribunnews.com/lifestyle/2015/01/21/air-kencing-ternyata-obat-manjur-atasi-jerawat

Atau ini

http://www.merdeka.com/sehat/5-manfaat-mengejutkan-dari-urine.html

Atau yang ini

http://www.beritasatu.com/features/43652-urine-ternyata-mengandung-hormon-anti-penuaan.html

  1. Membandingkan pembukuan hadits yang menurutnya baru dilakukan 200 tahun setelah Rasul wafat, dengan pembukuan Al Qur’an yang dilakukan pada zaman Khalifah Abu Bakar Sidiq.

Sebenarnya mengatakan bahwa hadits baru dibukukan 200 tahun pasca Rasul wafat tidak lah benar. Para sahabat sebelumnya sudah banyak yang memiliki suhuf hadits yaitu lembaran-lembaran catatan hadits.

Bahkan ada tafsirTafsiribnabbas yang namanya “Tafsir Ibnu Abbas” yang mana di dalamnya memuat banyak hadits. Tafsir ini masih terus dipelajari di kampus-kampus Islam hingga sekarang. Perlu diketahui bahwa Ibnu Abbas adalah seorang sahabat yang terkenal dengan ilmu tafsirnya.

Kemudian Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki) mempunyai kitab “Al Muwatha” yang di dalamnya banyak meriwayatkan hadits. Begitu juga  Imam Ahmad bin Hanbal (Madzhab Hanbali) telah menyusun dan mengumpulkan hadits dalam kitab nya yang terkenal, yaitu “Musnad Ahmad”.

Untuk membuktikannya, silahkan dicek sendiri, berapa tahun jarak antara Imam Malik saat menyusun kitab Muwatha’ dengan wafatnya Rasulullah saw?

  1. Kaburkan makna hadits agar orang menganggap bahwa hadits adalah karangan Imam Bukhari.

Cara ke empat ini sangat jitu untuk mempengaruhi orang agar mengingkari hadits. Jika sudah tertanam dalam hati bahwa hadits adalah karangan Bukhari, maka akan timbul pertanyaan pada diri sendiri. “Bagaimana mungkin karangan seseorang yang tidak maksum (terbebas dari salah) bisa dijadikan sumber hukum?”

Maka tak heran jika kemudian kita sering mendapatkan pertanyaan seperti ini: “Bagaimana shalatnya orang yang hidup sebelum Bukhari lahir?” Pertanyaan semacam ini adalah indikasi bahwa ia tidak paham apa itu hadits, sehingga berdialog mengenai hadits dengan orang seperti ini hanya akan menemui jalan buntu, dan bahkan bisa berujung olok-olokan.

Perlu diketahui, bahwa yang dimaksud hadits adalah “ma udhifa ila nabi min qoulin au fi’lin” ringkasnya, “Hadits adalah ucapan ataupun perbuatan Rasulullah saw”. Jadi baik hadits itu ditulis ataupun tidak ditulis, atau di kitab mana hadits itu ditemukan, selama ia bersumber dari ucapan atau perbuatan Rasul maka ia disebut hadits Rasul.

Nah kalau ada pertanyaan, dari mana Umat Islam bisa shalat sebelum Bukhari lahir? Ya tentunya dari hadits Rasul yang diriwayatkan oleh ulama pada waktu itu dari generasi ke generasi hingga Rasulullah saw.

  1. Hadits adalah ucapan Allah, dan selain hadits Allah adalah “lahwal hadits” ucapan yang sia-sia. Hadits Allah adalah “ahsanul hadits” hadits terbaik.

Yup… semua mengakui bahwa hadits terbaik adalah hadits Allah. Rasulullah saw pun menegaskan akan hal itu: “Sebaik-baik hadits adalah ucapan Allah”. Namun jika ada sesuatu yang TER-baik, berarti di situ ada sesuatu yang baik, agak baik, kurang baik dan tidak baik. Bukankah begitu?

Lantas benarkan selain hadits Allah itu berarti lahwal hadits?

Coba perhatikan:

وَ هَلْ أَتاكَ حَديثُ مُوسى‏

Apakah telah sampai kepadamu HADITS Musa?

إِذْ رَأى‏ ناراً فَقالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ ناراً لَعَلِّي آتيكُمْ مِنْها بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدىً

Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya:” Tinggallah kamu ( di sini ), sesungguhnya aku melihat api, mudah- mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”.

Jadi tidak semua kata HADITS selain hadits Allah itu lahwal hadits bukan? ketika hadits Musa itu baik dan bukan merupakan lahwal hadits, maka Hadits Rasulullah saw pun baik dan bukan merupakan lahwal hadits. Right?

  1. Kitab hadits versi Sunni tidak diakui Syi’ah dan kitab hadits Syi’ah tidak diakui Sunni, padahal kedua-duanya mengaku kitab haditsnya paling shahih.

Mendengar perkataan tersebut di atas, sebagian orang mungkin akan memanggut-manggutkan kepala membenarkan. “Oh iya yah… katanya hadits itu ucapan nabi, kenapa tidak saling diakui?”

Namun taukah kamu? Bahwa perkataan di atas sangat keliru. Pernahkah kamu mendengar nama Imam Abu Hanifah? Beliau adalah salah satu ulama Madzhab Sunni, dan guru beliau adalah Imam Ja’far Shodiq, yang merupakan salah satu ulama yang oleh Syiah Imamiyah dijadikan sebagai salah satu Imam yang 12. Berarti Imam Abu Hanifah mengakui hadits yang diriwayatkan oleh ulama Syiah, bukan?

unduhan (1)Lalu pernahkan kamu mendengar nama Imam Hakim penyusun kitab hadits “Al Mustadrak”? beliau adalah “tasyayu'” yang condong ke Syiah, namun hadits-hadits yang beliau riwayatkan diakui oleh ulama Sunni dan bahkan kitab haditsnya dijadikan rujukan.😀

Kemudian pernahkah kamu mendengar bahwa banyak perawi di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari itu bermadzhab Syiah? Atau pernahkah kamu  mendengar Imam Syaukani pengarang kitab “Nailul Author”? Beliau adalah ulama Syi’ah Zaidiyah yang kitabnya dijadikan rujukan dalam bab fiqih oleh masyarakat Sunni.

Jadi tidak benar tuduhan bahwa Sunni tidak mengakui hadits yang diriwayatkan perawi Syiah atau Syiah tidak mengakui hadits yang diriwayatkan perawi Sunni.

Toh secara garis besar, tatacara haji, shalat, idul fitri, idul adha dan lain sebagainya antara Sunni dan Syiah tidak banyak perbedaan, karena sumbernya satu yaitu Al Qur’an yang dipahami dan dipraktekkan oleh Rasulullah saw. Dengan kata lain Al Qur’an dan Hadits atau Sunnah Rasul. Bukan Al Qur’an yang dipahami secara sendiri-sendiri seperti main tebak-tebakan.😛

  1. Hadits adalah penyebab perpecahan umat.

Memang, pada kenyataanya kaum muslimin yang sedang berperang dan saling membunuh satu sama lain adalah mereka yang mengakui adanya hadits Rasul.

Namun pertanyaanya, hadits manakah yang membolehkan kaum muslimin saling bunuh dengan sesamanya?

Bahkan kalau kita mau memahami lebih dalam, mereka justru lebih sering memakai dalil-dalil Al Qur’an yang dipahami secara keliru untuk membenarkan aksi jahatnya.

Berikut adalah beberapa ayat yang sering mereka jadikan dalil:

وَمَن لَّمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah maka mereka itulah orang-orang yang kafir.”

Lantas ayat di atas di sambung dengan ayat di bawah berikut ini:

“Bunuhlah (orang-orang kafir), Allah akan menyiksa mereka dengan tangan-tanganmu, Dia memberikan kehinaan kepada mereka dan Dia akan menolong kamu terhadap mereka serta Dia melegakan hati kaum yang beriman”. (QS At Taubah 9 : 14)

“…. Bunuhlah pimpinan-pimpinan orang kafir, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya ….” (QS At Taubah 9 : 12)

Nah untuk perpecahan kaum yang mengingkari Hadits, nampaknya sudah bukan rahasia lagi, walau mereka mengaku mengikuti Al Qur’an yang sama dan jumlah pengikutnya pun tidak lebih dari 1 %.

Wallahu a’lam bis shawaab…

One Response to “7 Langkah Jitu Agar Orang Ingkari Hadits”

  1. ibnuwarfan said

    maaf . https://almanhaj.or.id/3765-imam-jafar-ash-shadiq-rahimahullah-imam-ahli-sunnah-bukan-milik-syiah.html
    Imam Ja’far Ash-Shadiq dijadikan Imam yg 12 karena beliau adalah keturunan husain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: