Catatan Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo

Never too old to learn and to do

Uniknya Masyarakat Saudi

Posted by Ahmad Farisi on 17 September 2012

Sebelumnya –ketika saya tinggal di Kairo- saya pernah menulis tentang “Uniknya Masyarakat Mesir” Silahkan klik disini

nah, sekarang setelah saya tinggal di Saudi saya juga ingin sekali berbagi pengalaman mengenai gambaran secara global budaya Arab Saudi saat ini. Berikut adalah beberapa budaya Saudi yang dianggap unik:

Budaya Memuji dan Basa-basi:

Bagaimanapun juga, dan di belahan bumi manapun, memuji tetap dianggap lebih baik daripada mencaci, meski sebenarnya pujian yang berlebihan adalah racun, namun cacian adalah kuburan. Orang Saudi suka sekali memuji orang, ini adalah basa-basi mereka yang juga merupakan trik untuk menarik simpati seseorang. Pada umumnya mereka akan luluh hatinya dengan pujian. Mereka akan sangat menghormati kita jika kita menghormati mereka. Sebetulnya ini adalah kunci berinteraksi yang berlaku dimana saja.

Orang Saudi senang dicium kening dan dipegang jenggotnya, karena menurutnya hal itu merupakan penghormatan baginya. Jadi, apabila kamu punya kenalan orang Saudi, cobalah cium keningnya dan pegang jenggotnya, lalu perhatikan perubahan padanya, boleh jadi ia akan menjadi mitra yang baik bagimu. Kalau mereka sudah merasa senang, maka kamu akan tahu bahwa sebenarnya mereka adalah orang yang mudah diajak bergaul dan berjiwa dermawan. Akan tetapi jangan mencoba-coba untuk menyakitinya, karena ia tidak akan segan untuk mengatakan terus terang ketidaksukaanya.

Awas! Jangan Salah Pegang:

Bila kamu punya teman orang Saudi, hati-hatilah bercanda dengannya, karena jika salah canda, bisa jadi ia akan marah denganmu. Jangan sampai ketika kamu bercanda dengannya kamu memukul atau memegang pantatnya. Karena mereka akan sangat marah bila dipegang pantatnya. Kalau terpaksa harus memukul, maka pukullah kepalanya atau bagian yang lain, walaupun lebih keras barangkali itu akan lebih baik bagimu daripada memegang pantat.hehe  Mereka tidak marah dipegang kepalanya. Berbeda dengan budaya kita, kita sangat tidak suka dan bisa marah besar bila dipegang kepalanya. Tapi di Saudi, memegang kepala tidaklah mengapa, tapi jangan pernah coba-coba memegang pantat, karena itu dianggap tidak sopan.

 

Boleh Unjuk Gigi,  Tidak Boleh Adu Jotos:

Jika kamu berkunjung ke Saudi, jangan terperanjat ketika kamu mendengar mereka berbicara keras seperti orang marah. Itu adalah hal biasa dan belum tentu karena marah, sebab nada bicara mereka memang terkadang keras. Kamu juga jangan heran bila di jalan kamu melihat orang yang sedang adu mulut, karena biasanya sebentar saja mereka akan reda dan pergi tanpa meninggalkan jejak dendam sedikitpun dalam hati. Bahkan ketika terjadi perang mulut yang hebat, sampai keluar kata cacian dan sumpah serapah, mereka tidak akan ada yang berani memukul duluan. Berbeda dengan budaya primitive, yang sedikit tersinggung saja langsung main pukul. Budaya “senggol bacok” tersenggol sedikit langsung membacok. Di Saudi, orang yang memukul terlebih dahulu sangsinya berat dan urusannya akan panjang.

Jangan Lihat Luarnya Saja!

Orang yang baru pertama kali ke Saudi mungkin agak sedikit heran, kenapa di Saudi mobil-mobil keren tapi luarnya sudah pada lecet dan penyok? Jawabanya adalah, karena bagi mereka mobil itu yang penting fungsinya, bukan penampilan luarnya yang mulus. Jadi lecet sedikit tidak masalah asal tidak mengganggu jalannya. Orang Saudi -apalagi yang masih bergalar badui- tergolong ugal-ugalan dalam mengendarai mobil, sehingga tidak sedikit warga asing yang terheran-heran dan jengkel dibuatnya.

Ketika terjadi tabrakan ringan di antara mereka, masing-masing akan turun dari mobil dengan membiarkan mobilnya masih terparkir di tengah jalan dalam posisi seperti awal ketika bertabrakan, lalu mereka melihat-lihat kerusakannya dan saling menyalahkan. Mereka sama sekali tidak menghiraukan bunyi klakson yang bersahut-sahutan dibelakangnya gara-gara mobilnya yang terparkir menghalangi jalan sehingga menyebabkan kemacetan. Setelah merasa puas dan mungkin lelah, baru mereka pergi dengan damai tanpa melibatkan polisi.

Yang lucunya lagi, ada saja yang gara-gara mobilnya tabrakan, malah menjadi sahabat bahkan saudara. Dari obrolannya, biasanya mereka akan menanyakan nama, dari namanya nanti akan diketahui ia dari kabilah mana. Bila ternyata masih satu kabilah, wow…! Tidak perlu diragukan, obrolannya akan semakin jauh kemana-mana. Dari menanyakan masalah keluarganya masing-masing hingga masalah perjodohan. Kalau kebetulan ada yang punya anak laki-laki dan yang lain punya anak perempuan yang sudah layak untuk menikah, bila cocok, mereka akan menjodohkannya, kemudian setelah itu tinggal menunggu jawaban dari anaknya. Ternyata dengan cara perjodohan, mampu mengurangi masalah pacaran dan pergaulan bebas di negeri itu.

Di Saudi, kabilah-kabilah masih sangat kuat, seperti kabilah Az-Zahrany, Al-Ghomidy, Al-Quraisyi dan Al-Utaiby. Dibelakang nama mereka selalu diberi tambahan nama kabilahnya. Misalkan namanya Khalid, ia mempunyai anak bernama Hamzah, sedangkan ayahnya bernama Ahmad dan kakeknya bernama ‘Aidh, sementara kabilahnya Al-Utaiby, maka di kartu identitas akan tertulis Khalid Ahmad ‘Aidh Al-Utaiby, dan biasanya ia akan dipanggil Abu Hamzah yang artinya bapaknya Hamzah.

Pakaian Resmi Orang Saudi:

Sebagai Negara yang 100 % penduduknya beragama Islam dan diberi keutamaan dengan keberadaan Haramain (dua tanah suci), maka mereka sangat memperhatikan cara berpakaian ketika di luar rumah. Laki-laki Saudi pada umumnya memakai baju‘Tob” yaitu pakaian panjang yang menyambung dari pundak hingga di atas mata kaki. Untuk tutup kepala, mereka memakai gutrah atau ‘imamah atau bahasa Indonesianya adalah surban. Berbeda dengan para kyai di Indonesia dalam cara memakai surban, yang biasanya mereka meletakan surban di atas pundak. Orang Saudi memakai surban di atas kepala setelah peci putih, kemudian biasanya diatasnya ditaruh ‘Iqal” tali hitam yang melingkar seperti angka Zero.

Di Indonesia, jubah biasanya dipakai oleh para ulama ketika mereka mengisi acara pengajian di majelis-majelis ilmu. Namun di Saudi, jubah adalah pakaian sehari-hari yang dipakai dimana saja dan oleh siapa saja, dari seorang raja hingga sopir taksi. Bahkan ketika menjadi supporter bola pun, mereka tetap saja memakai jubah putih, mirip seperti masa ormas Islam pimpinan Habib Rizieq Syihab yang siap melakukan sweeping ke tempat-tempat maksiat.

Adapun pakaian resmi perempuan Saudi adalah “Abaya” atau baju kurung. Ketika keluar rumah, mereka selalu memakai abaya berwarna hitam dan bercadar, sehingga yang kelihatan hanya mata dan alisnya saja.

Barangkali orang yang baru menginjakkan kakinya di Saudi akan bertanya-tanya, mengapa mereka selalu memakai cadar ketika di luar rumah? Karena mengikuti fatwa ulamanya yang mengharuskan perempuan memakai cadar di luar rumah, dan itu sudah menjadi seperti hukum pemerintahan. Tapi saudara jangan terburu-buru menganggap bahwa perempuan Saudi tidak tahu mode dan ketinggalan zaman soal model pakaian. Anggapan itu salah besar, karena menurut informasi dari beberapa orang, kebanyakan mereka begitu kembali ke rumahnya, mereka akan mencopot pakaian luarnya yang serba hitam kemudian tinggallah pakaian yang sangat seksi yang ia kenakan. Rambut mereka biasanya disemir kuning seperti orang Barat. Namun tidak sedikit perempuan Saudi yang tetap menjaga pakaiannya yang menutup aurat walau sedang di dalam rumah bersama keluarganya sendiri.

Makanan Favorit di Saudi:

Negara Saudi adalah negara yang mempunyai warga asing yang sangat banyak. Jumlahnya hampir seimbang dengan penduduk asli. Sehingga makanannya sedikit telah terkontaminasi oleh banyak masakan asing. Ada beberapa daftar makanan favorit yang biasa mereka makan, antara lain adalah nasi bukhari, yaitu nasi lemak dengan bumbu-bumbu khas yang lezat. Dilihat dari namanya, nasi ini berasal dari Negeri Bukhara. Nasi bukhari biasanya dimakan dengan ayam panggang, ditambah sambal tomat dengan lalapan cabe besar dan bawang bombai.

Selain itu ada juga roti “tamis”. Roti berbentuk bundar yang lebarnya sebesar roda kereta api ini berasal dari Afganistan. Roti ini biasa dimakan dengan ful, yaitu kacang yang dimasak halus dengan bumbu-bumbu yang gurih dan berminyak. Roti ini biasa disantap untuk sarapan pagi. Di sana  banyak restaurant dengan nama hadra maut. Dari namanya sudah bisa dipastikan, bahwa di dalamnya terdapat masakan khas Yaman. Biasanya restaurant semacam ini menyediakan menu kambing guling, ayam panggang dan aneka makanan khas Yaman lainnya. Di samping itu ada albaik, yaitu ayam goreng seperti KFC. Isinya tidak jauh berbeda dengan KFC, yaitu fried chicken, kentang goreng dan roti. Harganyapun hampir sama dengan KFC, tapi rasanya lebih lezat dan gurih. Jika saudara berkunjung ke Saudi, jangan lupa untuk membeli albaik dan nasi bukhari.

Sebagai negara yang kaya raya dan rakyatnya hidup makmur sejahtera, orang Saudi termasuk royal dalam hal makanan. Mereka sangat pilih-pilih dalam masalah selera makanan. Mereka biasa makan dengan berjamaah. Biasanya 1 nampan untuk 4-8 orang, tergantung ukuran nampannya. Salah satu tradisinya, mereka sering mengundang keluarga dan kerabat untuk acara makan-makan yang mereka namakan azimah. Tidak ada yang istimewa dari acara itu, setelah semua pada hadir  lalu mengobrol masing-masing dan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama.

Menu yang tidak pernah ketinggalan untuk acara azimah adalah daging kambing, entah itu dengan cara direbus gurih maupun dipanggang atau kambing guling. Biasanya 1 kambing masak, yang sudah dipotong kakinya, ditaruh di atas nampan besar yang berisi nasi lemak yang sudah dilengkapi dengan acar dan salad di pinggirnya. Satu nampan besar yang berisi satu kambing dan nasi lemak itu untuk delapan orang saja. Sudah pasti tidak akan mungkin habis, bahkan nasinyapun hanya tersentuh sedikit saja. Lalu setelah acara makan selesai, mereka meneruskan obrolannya masing-masing sambil menyeruput ‘gahwah’ yang ditemani kurma dan selai kacang. Gahwah dari bahasa Arab ‘Qohwah’ yang artinya kopi. Orang Saudi membaca huruf Qof menjadi Gaf, misalnya kata qorib (dekat) menjadi garib, kata qolam (pena) menjadi galam. Berbeda dengan minuman kopi di tempat kita yang rasanya manis dan pahit, kopi di Saudi rasanya pahit sekali, tidak ada manisnya sedikitpun. Itulah yang biasa orang-orang Indonesia menyebutnya kopi Arab. Kopi ini diminum dengan gelas khusus yang ukurannya sangat kecil, mereka biasa meminumnya dengan cara sedikit-sedikit.

Barangkali itu saja yang baru bisa saya sajikan di sini, sebenarnya masih banyak kebudayaan-kebudayaan Saudi yang unik lainnya yang belum saya sampaikan dan mungkin belum saya ketahui. Silahkan bagi teman-teman yang tinggal di Arab Saudi atau yang mengetahui kebudayaan Saudi yang unik lainnya untuk menambahi. Silahkan sharing di sini, ambil kebudayaan yang baik dari mana saja dan tinggalkan yang buruk. Terima kasih Wassalam. (A/F)

3 Responses to “Uniknya Masyarakat Saudi”

  1. Daud Jogja said

    neng jowo ono pemeo: “,,,wong jowo dipangku mati”.

  2. Wah Keren Juga Ya Di Arab,Kapan Yah Ane kearab

  3. al said

    Diarab saudi makan malamnya jam 1 dini hari, sudah subuh tidur, mereka belanja ke mal jg tengah malam, kalo anak mudanya lebih senang tinggal di jeddah ketimbang mekkah, kalo cari prt tkw mereka lebih suka orang sunda, tapi yang kaya2 pilih tkw pilipina, kalo musim panas pindah kekota sejuk thaif, kl ketemu cipiki 1 kali cipika 3 kali he2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: