Catatan Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo

Never too old to learn and to do

Dialog dengan Habib Syi’ah

Posted by Ahmad Farisi on 29 June 2012

Bismillahirrahmanirrahiim…

Dialog yang saya tulis ini adalah hasil dari dialog saya dengan seorang habib dari Syi’ah. Tulisan ini bukan bertujuan untuk membongkar kebohongan-kebohongan dan penyelewengan Syi’ah, bukan pula untuk memecah persatuan umat. Saya hanya ingin mengajak pembaca untuk berfikir dan memperhatikan akidahnya dan kemudaian menjaganya dengan baik. Madzhab Syi’ah saat ini telah mengepakkan sayapnya di negeri kita tercinta. Mereka telah menyiapkan para aktifis dakwahnya ke penjuru pelosok nusantara guna menyebarkan paham-paham Syi’ahnya. Bagi yang lengah dan tidak mengenal aqidah yang lurus, maka ia akan mudah masuk kedalamnya.

Pertemuan Pertama di Hotel MovenPick, Madinah Al Munawwarah

Ketika saya sedang duduk-duduk bersama teman setelah makan malam di sebuah restaurant hotel bintang lima MovenPick di Madinah, datanglah seorang Habib yang kebetulan pada saat itu dia menjadi Tour Leader atau ketua rombongan kafilah umrah dari Indonesia. Sebut saja namanya habib MT. Wajah beliau kearab-araban dengan jenggot tipis, berpenampilan mirip dengan penampilan ulama Iran. Beliau mengaku telah berkecimpung di dunia dakwah sejak lama sekali sampai ke luar-luar Jawa. Beliau juga mengatakan bahwa dirinya sudah 12 tahun biasa membawa jamaah umrah ke tanah suci.

Beliau menghampiriku, menggeser kursi dan duduk dihadapanku. ”Syaikh ana mau bicara denganmu lima menit saja, saya tau antum dari Universitas Al Azhar, biasanya pikirannya lebih terbuka” katanya kepadaku dengan suara pelan. “Ahlan wa sahlan” jawabku singkat.

Habib MT: “Saya membawa kitab-kitab, nanti antum saya kasih dan silahkan dibaca baik-baik. Mohonlah kepada Allah agar diberi petunjuk”. Ungkapnya untuk membuka pembicaraan.

Aku: “Iya insya Allah. Syaikh, antum tau kitab AL KAFI?” *1 tanyaku singkat.

(Saya menanyakan kitab itu karena sejak awal saya sudah merasakan bahwa dia adalah seorang Syi’ah dan akan menyebarkan paham syi’ah kepadaku, serta mengajakku untuk ikut menjadi aktifis dakwah Syi’ah. Saya telah mencium gelagat Syi’ah darinya ketika pertama kali beliau mengadakan pengajian untuk para jamaah umrah. Sebelum ke acara inti siraman rohani, beliau menjelaskan tentang tata cara wudhu yang benar sesuai pemahaman yang beliau ikuti sekarang. Menurutnya wudhu yang selama ini banyak dilakukan orang-orang adalah salah. Sudah puluhan tahun kita berwudhu dengan cara salah seperti itu, karenanya harus dirubah dengan pelan-pelan” pungkasnya. Beliau mengartikan membasuh kedua kaki hingga “Ka’baini” dua mata kaki, kata ka’bun adalah dari kata ‘Kubbah’. Jadi kata ka’bain berasal dari kata kubbatain yang artinya dua kubbah. Kubbah kaki adalah telapak kaki bagian atas atau punggung telapak kaki. Sehingga menurutnya bagaian kaki yang harus dibasuh saat berwudhu hanyalah punggung telapak kaki, seperti ketika membasuh (khuf) kaus kaki dari kulit.)

Habib MT: “Kita tidak usah membicarakan kitab itu, kitab-kitab Ahlussunah seperti Al Bukhari  juga tidak semua antum terima kan?” Jangan ikut-ikutan orang yang menuduh bahwa Syi’ah mengatakan Al Qur’an telah berkurang, Jibril as salah memberi wahyu kepada seseorang, yang seharusnya untuk Imam Ali, ternyata diberikan untuk Nabi Muhammad SAW dan lain sebagainya”.

Aku: “Iya saya tidak ikut mengatakan seperti itu, meski saya tau pernyataan tersebut ada di dalam kitab Syi’ah, tapi itu bukan pendapat mayoritas Syi’ah, makanya saya mencoba meluruskan teman-teman yang mengatakan bahwa syi’ah menganggap Al Qur’an telah berkurang dan berubah serta Malaikan Jibril salah dalam memberikan wahyu. Saya berusaha bersikap netral.

Menuduh dan mengatakan kesesatan mereka yang seperti itu malah hanya akan menambah mereka semakin jauh tersesat, karena mereka akan sibuk mencari alasan untuk mendukung pemikirannya atau mencari bantahannya. gumamku dalam hati.

Habib MT: “Sekarang antum tentukan pilihan. Ikutilah jalan yang lurus. Madzhab Ahlul bait. Bukankah Imam Mahdi akan muncul dari Ahlul bait? Itu ada dalam hadits-hadits riwayat Ahlussunnah”.

 Aku: “Ya itu ada di dalam hadits-hadits Ahlussunnah, bahwa Imam Mahdi akan muncul  menjelang hari kiamat. Beliau dari Ahlul Bait Rasulullah SAW. Namanya seperti nama Rasulullah, dan nama ayahnya seperti nama ayah Rasulullah.(*2) Tp bagaimana kalau Imam Mahdi dari Ahlul Bait yang bermadzhab Ahlussunnah wal Jamaah? Kami Ahlussunnah wal jamaah tidak menentukan siapa yang akan menjadi Imam Mahdi dan kapan waktu kemunculannya. Kami hanya mengimani akan kemunculannya dan mengetahui ciri-cirinya. Berbeda dengan madzhab Syi’ah yang sudah menetapkan orang yang bakal menjadi Imam Mahdi. Padahal seperti yang kita tahu, syi’ah terpecah menjadi beberapa sekte, kemudian masing-masing sekte telah mengusung Imam Mahdinya sendiri-sendiri. Yang pertama, kelompok Kaisaniyah yang menganggap bahwa Muhammad bin Hafiah, putra Ali bin Abi Thalib adalah Imam Mahdi. Kedua, Syiah Ismailiyah as-Sabiyyah ( Syiah tujuh imam), menganggap bahwa  Isma’il bin Jafar as-Sadiq sebagai  Imam Mahdi. Ketiga, Syiah Dua Belas, yang menganggap Muhammad Al-Muntazar bin hasan Al-Askari, imam yang ke-12 sebagai Imam Mahdi. Lantas Imam Mahdi mana yang benar?”

Habib MT: Semuanya benar. Antum jangan fokus perbedaan antara Syi’ah dan Sunnah. Antum kira saya Syi’ah? Saya ini NU, Muhammadiyah dan Sunni. Tapi saya bukan Wahaby. Ikutilah jalan yang lurus, madzhab Ahlul Bait. Ahlul baitlah yang berhak menjadi pemimpin. Selama dinasti Umayyah, Ahlul Bait terus dibantai dan selama berpuluh-puluh tahun Ahlul Bait selalu dijelek-jelekkak di atas mimbar-mimbar masjid dan khutbah Jum’at. Bahkan sekarangpun Ahlul bait masih dimusuhi. Hadits-hadits tentang keutamaan Ahlul Bait yang ada di Kitab Bukhari dihapus dan dihilangkan. Sekarang masih ada kitab Bukhari yang memuat banyak keutamaan ahlul bait. Kitab itu ada di Lebanon.

Aku: Jadi sebenarnya perbedaan kita pada awalnya adalah masalah kekuasaan pada masa Ali bin Abi Thalib yang kemudian menurut Syi’ah direbut oleh Muawiyyah, setelah itu masalahnya melebar ke masalah yang lain, Aqidah dan Syari’at. Ahlussunnah menyerahkan masalah itu kepada Allah. Ahlussunnah menganggap semua sahabat adalah adil, radiyallahu anhum. Ahlussunnah sama sekali tidak membenci Ahlul Bait. Bahkan  Ahlussunnah mewajibkan untuk mencintai Ahlul bait dan para sahabat lainnya. Orang-orang yang membenci Ahlul bait bukanlah termasuk ahlussunnah wal jamaah, mereka adalah “nawasib”, kelompok lain diluar Ahlussunnah. Kami berlepas diri dari perbuatan mereka. Karena itu, tidak ada satupun dari kitab-kitab Ahlussunnah yang mencaci atau membenci Ahlul bait. Bahkan Ulama Ahlussunnah mencintai dan memuji Ahlul Bait dengan ucapan-ucapan dan tulisannya. Jika saya ditanya, manakah yang lebih kamu cintai, Ali atau Muawwiyah? Dengan tegas saya mengatakan “Ali lebih saya cintai” alasannya? Beliau adalah termasuk orang yang pertama masuk Islam dari kalangan pemuda, Beliau yang pernah menggadaikan nyawanya untuk Rasulullah. Beliau Ahlul bait dan orang terdekat Rasulullah SAW yang telah mengorbankan jiwanya untuk kejayaan Islam. Tidak benar bahwa hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan Ahlul Bait di dalam kitab Shahih Bukhari dihilangkan. Buktinya masih banyak hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan ahlul bait, baik di Shahih Bukhari maupun kitab-kitab hadits lainnya. Kalau mau dihilangkan, kenapa tidak semuanya? Mana buktinya kitab Bukhari yang memuat hadits-hadits keutamaan ahlul bait yang belum di hapus yang katanya ada di Lebanon? Sampai sekarang saya berusaha bersikap netral dan masih membandingkan”.

Habib MT: “Jika Ahlussunnah mencintai Ahlul Bait harus dibuktikan, tidak hanya dengan tulisan dan kata-kata. Tidak usah banyak membandingkan dan berpikir lama-lama. Cobalah bangun di tengah malam, bermunajat kepada Allah dan mohon petunjuk dariNya. Insya Allah nanti akan ketemu jawabannya. 

Aku: “Saya selalu memohon petunjuk kepada Allah di setiap shalatku, dan saya semakin tau bahwa Syi’ah yang sekarang ini semakin jauh dari Islam. Orang-orang Syi’ah sekarang banyak yang membenci Abu Bakar Asshiddiiq, Umar, Usman dan Aisyah Radhiyallahu ‘anhum bahkan tidak sedikit yang mengkafirkannya. Padahal orang-orang Syi’ah dahulu banyak yang memberi nama-nama anaknya dengan nama Abu bakar, Umar, dan Aisyah.*2 Secara logika, apakah mungkin seseorang akan memberikan nama kepada buah hatinya dengan nama orang yang ia benci? Kita benci pada raja Namrud, Fir’aun dan George Bush, mungkinkah kita akan memberi nama anak-anak kita dengan nama tiga orang tersebut? Tidak mungkin. Kita akan memberi nama anak-anak kita dengan nama orang-orang yang kita cintai dan kita kagumi. Sekarang saya mau tanya, bagaimana pendapat Ahlul Bait, oh maaf, maksud saya orang-orang Syi’ah yang sekarang tentang Abu Bakar dan Umar?”

Habib MT: “Kenapa Anda keberatan mengatakan Ahlul bait? Ahlul bait adalah Syi’ah. Makna Syi’ah adalah pengikut atau penolong, jadi sebenarnya kita muslim adalah Syi’ah. Dan Ahlul bait lah nanti yang akan mewarisi dunia ini. Saya menganggap Abu Bakar dan Umar baik”. 

Aku: “Saya katakana di sini bahwa antara Ahlul Bait dan Syi’ah itu berbeda. Saya membedakan antara Ahlul bait dan Syi’ah, karena saya menganggap bahwa tidak semua Ahlul Bait adalah Syi’ah. Banyak Ahlul Bait yang bermadzhab Ahlussunah wal Jamaah. Ada Ahlul bait Sunni dan Syi’i. Bagus kalau antum menganggap sahabat agung Abu Bakar dan Umar baik”.

Habib MT: Itu beda guru, Ahlul bait yang tidak mengikuti madzhab Syi’ah adalah ibarat Kan’an anak Nabi Nuh As. 

Aku: Kalau itu analogi antum tentang Ahlul Bait, berarti makna Ahlul Bait atau Alu Bait disini bukan berarti keluarga nabi, akan tetapi maknanya adalah para pengikut nabi. Sebagaimana firman Allah وإذ نجيناكم من آل فرعون  (dan ingatlah ketika Kami selamatkan kalian dari para pengikut Fir’aun) “Aalu fir’aun” artinya adalah para pengikut Fir’aun, bukan para keluarga Fir’aun.

Begitu juga firman Allah SWT:

  1. وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ  (45)
  2. قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46)

”Dan, Nuh memanggil Rab-nya lalu berkata: ‘Wahai Tuhanku! Sesungguhnya anakku itu bahagian dari keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu benar dan Engkau hakim yang paling adil’. Allah SWT berkata: ‘Hai Nuh! Sesungguhnya dia bukan keluarga engkau, sebenarnya dia telah melakukan pekerjaan yang tidak baik, maka janganlah engkau menanyakan kepada-Ku tentang persoalan yang kamu tidak berpengetahuan tentang itu, Aku mengajar engkau supaya engkau tidak termasuk orang yang bodoh’.” (QS Hud ayat 45 dan 46).

Maka kata “innahu laisa min ahlik” sesungguhnya dia bukan keluargamu” maka kata “ahlun” atau keluarga disini artinya adalah pengikut. Karena dari segi biologis Kan’aan adalah anak nabi Nuh as. Meskipun demikian Allah berkata kepada Nuh, dia bukan dari keluargamu, artinya dia bukan termasuk pengikutmu, karena ia melakukan amalan yang tidak baik. Oleh karena itu analogi yang antum berikan adalah keliru. Karena makna“Ahlu Bait” yang sedang kita bicarakan adalah makna hakiki, yaitu keluarga Rasulullah SAW.

Habib MT: (Beliau melihat jam tangan) “Tadi saya hanya mau kasih waktu 5 menit, sekarang sudah lebih 10 menit. Seharusnya antum bayar ke saya”. Pokoknya sekarang cobalah shalat tahajjud, bermunajat kepada Allah dan minta petunjuk. Insya Allah nanti akan menemukan kebenaran itu. Ayo ke kamarku!!!”

Kemudian kami bertiga pergi ke kamarnya. sesampai disana, beliau mengambil 3 buah kitab lalu memberikan kepada kami. “Silahkan dibaca dengan baik-baik sampai selesai”. Pesannya kepada kami. Judul kitab masing-masing adalah: ADAB UMRAH berdasarka Qur’an, Hadis dan Fatwa Ulama Mujtahid Lengkap dengan Doa-doanya, ADAB SHALAT TAHAJJUD DALAM AL-QUR’AN DAN HADIS dan MUNAJAT SHOLAT HARIAN. Dan saya lihat semuanya adalah beliau yang menyususn.

Aku: Syukran syaikh, insya Allah nanti kalau sudah ada waktu saya baca.

Habib MT: “Baik, baca semuanya sampai selesai dan renungkan. Saya itu kasihan sama kalian, makanya saya  mengarahkan kepada kalian. Kalau tidak percaya, saya siap “mubahalah” *2, tapi kasihan antum masih bujang. Seburuk-buruk mayat adalah orang yang mati dalam keadaan masih membujang”. Cetusnya untuk mengakhiri pertemuan kita.

Lalu setelah itu kami bubar.

Bersambung……

Itulah pertemuaan dialog kami sesi pertama yang berlangsung di kota suci Madinah. Dialog sesi kedua berlangsung di kota suci Mekah di Hotel Le Meridien. Yang membuat saya kaget dan tersentak adalah ketika beliau mengatakan: “IMAM ITU LEBIH UTAMA DARIPADA RASUL”  Subhanallah hadza buhtaanun ‘adziim…

Mari perbanyak shalawat… Allahumma Shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.

Ahmad Farisi

Mekah, Jum’at, 1 Juni 2012

KETERANGAN Foot Note:

*1 Kitab al Kafi adalah kitab yang ditulis oleh ulama syi’ah, Al Kulainy. Didalamnya mengandung banyak sekali penyelewengan dan penyesatan. Banyak sekali ulama Syi’ah yang memuji kitab ini dan menurutnya  kitab ini adalah kitab Syi’ah yang paling shahih. Ali Akbar Al Ghifari, pentahqiq kitab Al Kafi menyatakan: mazhab Imamiyah sepakat bahwa seluruh isi kitab Al Kafi adalah shahih.

Sementara Abdul Husein Syarafuddin Al Musawi dalam kitab Al Muraja’at [edisi bahasa Indonesia berjudul Dialog Sunnah Syi’ah, terbitan Mizan] menegaskan: yang terbaik dari yang dibukukan adalah empat kitab yang merupakan pegangan mazhab Imamiyah dalam masalah ushul maupun furu’ sejak jaman pertama hingga masa kini, yaitu kitab Al Kafi, Tahdzib, Al Istibshar dan Man La Yahdhuruhul Faqih, semua isinya adalah mutawatir dan dipastikan status keshahihannya, dan Al Kafi adalah yang paling terdahulu, paling hebat, paling bagus [Muraja’ah no 110] Edisi Dar Shadiq Beirut.

Setelah memuji empat kitab di atas, Al Faidh Al Kasyani mengatakan: Al Kafi adalah yang paling mulia, paling hebat, paling valid, paling sempurna dan paling lengkap. Muqaddimah Kitab Al Kafi halaman 9, padahal dia juga mengakui bahwa Al Majlisi menganggap kebanyakan riwayat yang ada dalam kitab Al Kafi adalah tidak shahih.

Kendati demikian, ada juga ulama Syi’ah yang mengkritik kitab tersebut dan menganggap bahwa kebanyakan riwayat di dalamnya tidak shahih. Begitu juga syi’ah hari ini, baik ulamanya maupun para aktifis-aktifisnya, mereka tidak sertamerta menerima kitab tersebut.

Mari kita menengok ke sebagian judul bab yang ada dalamnya, dari judul bab itu kita bisa tahu sekilas isi kitab Al Kafi yang menjadi rujukan utama bagi syi’ah. Dengan mengetahui rujukan mazhab tertentu kita bisa mengetahui isi ajaran mazhab itu, maka bisa dikatakan bahwa dengan mengetahui isi kitab Al Kafi kita bisa mengetahui isi ajaran syi’ah.

Bab para imam adalah tiang bumi.

Bab bahwa ayat yang disebutkan oleh Allah dalam kitabNya adalah para imam.

Bab bahwa ahli dzikir yang diperintahkan bagi manusia untuk bertanya pada mereka adalah para imam.

Bab bahwa orang yang diberikan ilmu yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah para imam.

Bab bahwa orang yang dalam ilmunya adalah para imam.

Bab bahwa Al Qur’an menunjukkan pada imam.

Bab para imam mewarisi ilmu Nabi Muhammad dan seluruh Nabi dan washi sebelumnya.

Bab para imam memiliki seluruh kitab suci yang diturunkan oleh Allah.

Bab tidak ada yang mengumpulkan Al Qur’an yang lengkap selain para imam, dan mereka mengetahui ilmu Al Qur’an seluruhnya.

Bab para imam memiliki mukjizat para Nabi.

Bab jumlah para imam bertambah pada malam jum’at.

Bab para imam jika mereka ingin mengetahui sesuatu mereka akan mengetahuinya.

Bab bahwa para imam mengetahui kapan mereka mati, mereka hanya mati saat mereka berkehendak.

Bab para imam akan memberitahukan rahasia orang walaupun mereka tidak diberitahu. Bab bumi dan seisinya adalah milik para imam.

Bab para imam mengetahui seluruh ilmu yang diberikan pada malaikat, Nabi dan Rasulullah Alaihissalam.

Bab Para imam mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang belum terjadi, tidak ada yang tidak mereka ketahui.

*2 Dari Abdulloh bin Mas’ud, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Seandainya umur dunia ini tinggal sehari, maka tentunya Alloh akan memanjangkan hari itu, sampai ia mengutus seorang lelaki dari (keturunan)ku -atau dengan redaksi: dari ahlul baitku-, namanya sama dengan namaku, dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku. (HR. Abu Dawud, dan dishohihkan oleh Albani di kitabnya Shohihul Jami’, hadits no: 5304)

*3 Di antara anak sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ialah anak lelaki yang ia beri nama “Abu Bakar”, dan lainnya diberi nama “Umar” dan lainnya diberi nama “Utsman”. Beliau juga menikahkan putrinya Ummu Kultsum yang terbesar dengan sahabat Umar bin Al Khatthabradhiallahu ‘anhu. Dan sepeninggal beliau, ia dinikahi oleh saudara sepupunya, yaitu Muhammad bin Ja’far bin Abi Thalib, kemudian iapun meninggal sebelumnya, dan kemudian ia dinikahi oleh saudara lelaki Muhammad, yaitu ‘Aun bin Ja’far, kemudian Ummu Kultsum meninggal dunia sebagai istri beliau

*4 Mubahalah adalah memohon kutukan kepada Allah Swt untuk dijatuhkan kepada orang yang berdusta, sebagai bukti kebenaran salah satu pihak. Mubahalah dilakukan ketika orang-orang berdebat tentang masalah penting agama, lalu berkumpul di sebuah tempat dan memohon kepada Allah Swt untuk menghukum mereka yang berbohong dan menentang kebenaran.

18 Responses to “Dialog dengan Habib Syi’ah”

  1. ovi said

    Lanjutkan tulisannya agar bisa bermanfaat untuk umat islam di dunia…amin

  2. muhammad Abdul Ghany said

    saya suka dengan tulisan antum…tapi sebaiknya antuk coba periksa dengan benar orang tersebut…soalnya saya melihat dari tulisan antum bahwa dia mengaku bukan Syiah tapi orang NU, Muhammadiyah, Sunni….apa benar dia syiah dan apa benar itu ajaran syiah, setahu saya tidak begitu..mohon periksa orang itu jangan sampai dia adalah orang yang akan memecah belah ummat palagi buku2 adalah tulisan dia…hati -hati ya akhi…kapan anda sudah menzolimi saudara seiman hanya karena satu orang yang dijadikan rujukan tanpa pendalaman..antum sudah mencoba memfitnah..saya Muhammad Abdul Ghany (Ahlu Sunnah Wal Jamaah) email Ghany9999@gmail.co.id, semoga Allah merahmati kita dan memberikan petunjuk kebenaran kepada kita semua. Ingat Sahabat Muslim Semua..panyak Upaya pemecah belah Ummat…jadi tetaplah pada Keyakinan anda yang anda anggap benar dan jangan mudah menghujjat aliran lain sesama muslim. Wassalam

  3. Ali Al Mujtaba said

    Ane Ali Al Mujtaba bermubahalah “Syi’ah Ali adalah Islam yang paling murni yang berasal dari Rosululloh saww melalui ahlul baytnya yang suci! Yang menyatakan syi’ah sesat maka dialah yang sesat sedang yang menyatakan syi’ah kafir maka dialah yang kafir! Jika pernyataan ane ini salah maka Alloh akan memberi adzab pada ane dengan siksaan yang sangat pedih mulai detik ini juga sampai akhir hayat ane! Jika hal ini tidak terjadi maka penghujat syi’ah adalah musuh Alloh, Rosul, dan ahlul baytnya yang suci!

  4. Ovi@ ya terimakasih dukungannya…

    Muhammad Abdul Ghany @ Beliau benar orang Syi’ah. Saya sudah mengetahui kalau beliau Syi’ah dari ceramah2 yang di sampaikan kepada jamaah umrah sebelum beliau mengajak dialog kepada saya. saya juga sudah melihat isi buku2 yang beliau karang yang penuh dengan paham2 Syi’ah.

    Ali Al Mujtaba@ semoga Allah mengabuklannya…

  5. Ali Al Mujtaba said

    Alloh mengabulkan do’a ane bahwa ane semakin sehat! Antum penghujta syi’ah dikabulkan ikut bersama dajjal di neraka!

    • ihsan said

      Kasian benar antum begitu yakinnya dengan Syi’ah,sampai ingin bermubahalah segala. Yang mengatakan kalian sesat adalah Rasul ullah SAW sendiri,karena apa yg dilakukan dan diyakini org syi’ah sekarang ini tidak ada tuntunan atau keterangannya dari Nabi.Apa Nabi pernah menybut soal “imamah”mulai dari Ali hingga imam yg ke 12 yang sampai sekarang masih ghaib? Banyak lagi yg lain tdk ada sesuai dgn sunnah Nabi,dan setiap perbuatan yg tidak ada tuntinan/sunnah dari Nabi adalah BID’AH,dan setiap bid’ah adalah SESAT dan setiap yg sesat akan masuk NERAKA. Jelas ‘kan bahwa syi’ah adalah sesat? Siap2lah masuk ke neraka jahannam!

  6. ujikebenaran said

    Harap dipahami, bahwa nama2 Abu bakar, umar / Usman bukan hanya milik 3 orang itu sj pd zaman Nabi, jd terlalu sederhana cr berfikirnya

    • ANda bisa sebutkan siapa saja nama sahabat yg namanya Abu Bakar dan Umar? bukan saja itu, Amirul Mukminin Ali ra juga menikahkan putrinya dengan Imam Umar bin Khaththab ra.

      apakah itu tidak cukup bukti utk menunjukan bahwa para Imam yg menurut Anda SYi’ah ataupun para Syi’ah terdahulu mencintai Abu Bakar dan Umar?

  7. ali al mukhtar said

    sunni bin sunni bin sunni bin sunni bin sunni ilaaaa Rosulillah

  8. Aries Muhammad said

    Buku yg sangat tidak Ilmiah yg pernah sy baca terutama mengenai identitas dan Isi bahasan yg banyak di palsukan, berikut kejanggalannya :

    1. Husain al-Musawi menulis pada halaman 128 : “Disaat sedang memandikan saya menemukan bahwa sang mayit tidak di khitan. Saya tiak bisa menyebutkan siapa nama mayat tersebut, karena anak-anaknya mengetahui siapa yang memandikan bapaknya. Jika saya menyebutkan, pasti mereka akan mengetahui siapa saya, selanjutnya akan mengetahui penulis buku ini, sehingga terbukalah segala urusan saya dan akan terjadi suatu tindakan yang tidak terpuji.”

    # Komentar : Perhatikanlah, bahwa dia mengakui dirinya tidak ingin dikenali. Dia tidak menyebutkan siapa nama mayit yang memandikannya, karena takut dikenali dan dampaknya….. Tetapi dia berani menyebutkan Nama Ayatullah Sayid Khui, Syeikh Kasyf al-Ghita, bahkan Ayatullah Khumaini dengan hinaan dan cercaan yang lebih buruk lagi padahal mereka menurut pengakuannya adalah guru dan marja’nya.

    2. Husain musawi menulis pada halaman 94 : “Diakhir pembahasan tentang khumus ini saya tidak melewatkan perkataan temanku yang mulia, seorang penyair jempolan dan brilian, Ahmad Ash-Shafi an-Najafi Rahimahullah. Saya mengenalnya setelah saya meraih gelar mujtahid. Kami menjadi teman yang sangat kental walaupun terdapat perbedaan umur yang sangat mencolok, dimana dia tiga puluh lima tahun lebih tua dari umurku.” (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, 2008, hal. 94)”

    # Komentar : Perlu diketahui bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi dilahirkan pada tahun 1895 M/ 1313-14 H dan wafat pada tahun 1397 H. Jika kita bandingkan dengan umur yang disebutkan oleh Husain al-Musawi bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi itu lebih tua 35 tahun dari dirinya, maka kita menemukan tahun kelahirn Husain al-Musawi adalah tahun 1930 M atau 1349 H, dengan perhitungan sbb :
    – 1895 M + 35 = 1930 M
    – 1314 H + 35 = 1349 H
    Kemudian, bandingkan dengan halaman 68 Husain Musawi menyebutkan bahwa ia bertemu dengan Sayid Syarafudin al-Musawi (Pengarang Kitab al-Muraja’at atau Dialog Sunnah Syiah) di Najaf, Irak.

    3. Husain Musawi menulis pada halaman 68 :“Suatu hari di kota Najaf datang berita kepada saya bahwa yang mulia Sayid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi sampai ke Baghdad, dan sampai ke Hauzah (kota ilmu) untuk bertemu dengan yang mulia Imam Ali Kasyif al-Ghita. Sayid Syarafuddin adalah orang yang sangat dihormati dikalangan orang-orang syiah, baik dari kalangan awam maupun orang-orang khusus. Terutama setelah terbitnya kitab-kitab yang dia karang yaitu kitab Muraja’at dan kitab Nash wal Ijtihad.” (lihat hal. 68)

    # Komentar : Perlu diketahui bahwa Sayid Syarafuddin al-Musawi datang ke Najaf pada tahun 1355 H (buku al-Muraja’at diterbitkan pertama kali juga tahun 1355 H). Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan kedatangan Sayid syarafuddin al-Musawi maka usianya pada saat itu masih 6 tahun (1349 H – 1355 H = 6 tahun)….sementara pada Bab PENDAHULUAN (halaman 2), Husain al-Musawi menyebutkan bahwa ia datang ke Najaf pada usia remaja setelah menyelesaikan pendidikannya di Karbala….bagaimana mungkin ia ada di Najaf pada saat itu dan menjadi pelajar tingkat tinggi (kelas bahtsul kharij) pada usia 6 tahun…???? Sungguh kebohongan yang nyata

    4. Pada halaman 4 dia menulis : “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan meendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu Sayid (?) Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita.”

    # Komentar : Dengan jelas ia menyebutkan bahwa dia mendapat ijazah mujtahid dari Sayid (?) Kasyf al-Ghita’ tapi tidak disebutkan tahun berapa ijazahnya dikeluarkan. Perlu diketahui bahwa Kasyif Ghita’ bukanlah Sayid (bukan keturunan ahlul bait), tetapi Syeikh. Syeikh Kasyif al-Ghita meninggal pada tahun 1373 H. Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan tahun wafatnya Syeikh Kasyf al-Ghita, maka kita menemukan usia Husain al-Musawi tamat dari belajar dan menjadi mujtahid maksimal adalah 24 tahun (1349 – 1373 H = 24 tahun). Jika kita kurangi bahwa ia mendapat gelar 5 tahun sebelum meninggalnya Syeikh Ali Kasyf al-Ghita, yakni tahun 1368 H, maka berarti usianya menjadi mujtahid adalah 19 tahun (1349 – 1368 H = 19 tahun). Suatu prestasi yang membanggakan dan luar biasa. Tetapi anehnya, selain tidak ada datanya, tidak ada pula satupun ulama dan pelajar serta masyarakat mengetahui ada seorang yang mencapai gelar mujtahid pada usia tersebut dan berasal dari Karbala yang bernama Husain al-Musawi.

    5. Dan lebih mengherankan lagi, sehingga kedok si penulis semakin terbuka, adalah bahwa Husain al-Musawi menulis pada halaman 131-132, sbb : “Ketika saya berkunjung ke India saya bertemu dengan Sayid Daldar Ali. Dia memperlihatkan kepada saya kitabnya yang berjudul Asas al-ushul.”

    # Komentar : Ini adalah kebohongan nyata yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Husain al-Musawi. Ketahuilah bahwa Sayid Daldar Ali adalah ulama abad ke 19 yang wafat pada tahun 1820 M/ 1235 H (lihat kitab ‘Adz-Dzari’ah Ila Tasanif al-Syiah’). Ini berarti, sayid Daldar Ali telah meninggal selama 110-114 tahun sebelum lahirnya Husain al-Musawi yang lahir pada tahun 1930 M (1820 M – 1930 M = 110 tahun) atau (1235 – 1349 H = 114 tahun). Bagaimana mungkin Husain al-Musawi bertemu dengan sayid Daldar Ali padahal ia sendiri belum lahir bahkan ayah dan kakeknya pun mungkin belum lahir…???? Jika dia memang bertemu dengan Sayid Daldar Ali, berarti setidaknya Husain al-Musawi lahir pada tahun 1800 M. Jika dia lahir tahun 1800 M, bagaimana mungkin usianya lebih muda dari Ahmad Ash-Shafi an-Najafi yang lahir pada tahun 1895 M..??? dan bagaimana mungkin dia belajar kepada Syeikh Kasyf Ghita yang lahir pada tahun 1877 M..?? bagaimana dia bertemu dengan Sayid Khui di tahun 1992 (berarti usianya 192 tahun)? bagaimana mungkin dia mengikuti Revolusi Iran pada tahun 1979 (berarti usianya 179 tahun) ..??? dan banyak lagi kisah aneh yang diimajinasikan oleh si penulis buku ini.

    Wslm,

  9. mustafa said

    Banyak kaum muslimin yg beluw mengerti bahwa aqidah habaib/habib adalah Syiah

    • ihsan said

      Syukurlah anda kasi tau ke kita2 ini,berarti banyak diantara habaib yg mengaku Ahlil Bait itu sedang ber “taqiyyah” dong.

  10. lilalamin said

    Wkkk dongeng sebelum tidur yg lucu,mkin klo org yg mendalami tata bahasa dan psikologi jga yg pernah bertemu dgn ulama syiah akan memberi anda gelar pendongenh terbaik abad 21 yg jls klo benar antum debat seperti demikian dan itu org bnar2 ada,sanggahan dan tuduhan antum sudah basi dan org2 syiah sd menjawab berpuluh2 kitab tpi ya krn antum tlh berfrofesi sbgai pendongeng ya sudahlah,klo sya jdi antum sya sih malu nulis karangn fiksi yg tlah terbantah oleh ulama syiah,hehe piss ^,^v oh ya buku yg antum cantum itu fiksi tlh dibuktikan kebohongannya tpi wajar ya agen wahabi sich wkkk piss hehe

  11. umar abu said

    Tempat,waktu,tokoh dan pengarangnya aja fiktif. Yg bikin tentu CIA yahudi dkk nya yg arabia cecunguk. Utk menyerang iran dgn tulisan2 yg ternyata usang ketahuan fiktif kayak film karton scooby doooooooo.

    • Sama sekali ini bukan fiktif.

      saya saat ini tinggal di Makkah dan sering memandu jamaah umrah. habib tersebut adl tour leader jamaah umrah pd waktu itu.

      tempat dialog kami di Madinah dan Makkah… kalau Anda berkunjung ke Madinah tentu Anda akan tau hotel Movenpick, begitu juga jika Anda berkunjung ke Makkah maka Anda akan lihat hotel Le Meridien di sebelah kiri Masjidil Haram kalau kita keluar Masjidil Haram lewat pintu nmr 1 yaitu Bab Abdul Aziz.

      3 buku hadiah beliau jg masih ada di saya.

  12. adhe miftah said

    menarik… Tak ada provokasi tak ada celaan…
    Tapi sayang gak bisa di share…

  13. Ronald said

    I actually Think that posting, “Dialog dengan Habib Syiah Catatan
    Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo” was just right!
    I reallycan’t see eye to eye together with you more! At last looks like I actuallydiscovered a blogging site well worth browsing. Thanks for your time, Trevor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: