Catatan Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo

Never too old to learn and to do

Hal-Hal Yang Membatalkan Wudhu

Posted by Ahmad Farisi on 19 July 2011

1. Keluar Darah Banyak: ada perbedaan pendapat di antara ahli ilmu mengenai keluarnya darah, apakah membataklan wudhu atau tidak. Diantara mereka ada yang berpendapat membatalkan wudhu dan sebagian yang lain berpendapat tidak membatalkan wudhu. Jadi sebaiknya demi untuk kehati-hatian dan keluar dari perselisihan, apabila seorang Muslim keluar darah banyak, hendaklah ia berwudhu. Akan tetapi kalau keluarnya hanya sedikit, seperti mimisan, keluar darah dari gusi, dari bibir, dan keluar darah dari luka ringan,  maka tidak membatalkan wudhu. Keluarnya darah yang sedikit dapat dimaafkan.

2. Tidur Nyenyak:salah satu yang membatalkan wudhu adalah tidur, hal ini berdasarkan hadits shahih, hadits dari shofwan bin ‘Assal ra:

كان النبي يأمرنا أن نمسح علي خفافنا، ولا ننزع خفافنا إلا من جنابة، ولكن من غائط و بول و نوم (أخرجه الترمذي والنساء و ابن ماجه)

“ Rasulullah SAW menyuruh kami untuk mengusap khuf (kaus kaki dari kulit), dan tidak melepaskannya ketika kami habis dari buang air besar, kencing dan tidur, kecuali apabila kami junub”.  [HR: Tirmidzi di dalam kitab Thaharah, bab “mengusap khufain bagi musafir dan mukim” no 96. Nasa’i dalam kitab Thaharah, bab “wudhu dari buang air besar dan kecil” no 158. Ibnu Majah kitab Thaharah dan sunnah-sunnahnya, bab “wudhu dari tidur” no 478.] Maksudnya apabila hanya sekedar buang air besar, kencing dan tidur, maka ia hanya berwudhu dan mengusap khuf yang ia kenakan dan tidak wajib melepasnya. Kecuali apabila orang tersebut junub, maka ia harus melepas khuf dan mandi junub. Rasulullah SAW juga bersabda:

من نام فليتوضأ

“Barang siapa telah tidur, maka hendaknya ia berwudhu” [HR: Abu Dawud dan Ibnu Majah] akan tetapi yang lebih shahih adalah hadits dari sahabat Shafwan di atas. Jadi tidur yang nyenyak sehingga hilang akalnya, sudah tidak bisa merasakan dan tidak mendengar suara di sekitarnya membatalkan wudhu, baik itu tidur dengan berdiri, duduk dan berbaring, selama perasaan dan akalnya sudah hilang maka ia wajib wudhu. Akan tetapi tidur yang ringan, masih mendengar suara orang-orang disekitarnya, kesadaranya masih ada dan masih terasa apabila ia keluar hadats, maka tidak membatalkan wudhu.

3. Menyentuh Kemaluan:Menyentuh alat kelamin termasuk yang membatalkan wudhu. Rasulullah SAW bersabda:

(من مس ذكره فليتوضأ (أخرجه الترمذي و أبو داود والنسائي

“Barang siapa telah menyentuh dzakarnya maka hendaknya ia berwudhu” [HR: Tirmidzi, Abu Dawud dan Nasa’i] Rasulullah SAW juga bersabda:

أيما رجل أفضى بيده إلى فرجه ليس دونهما ستر فقد وجب عليه الوضوء ، وأيماامرأة أفضت بيدها إلى فرجها ليس دونها ستر فقد وجب عليها الوضوء

Setiap laki-laki yang menyentuh kemaluannya dengan tanganya tanpa ada pembatas, maka ia wajib berwudhu dan setiap wanita yang menyentuhnya dengan tanganya tanpa ada pembatas maka wajib baginya berwudhu. (HR. Ahmad) Yang dimaksud menyentuh disini adalah menyentuh dengan tangannya secara langsung, daging dengan daging tanpa ada penghalang. Maka apabila seseorang menyentuh farjinya baik laki-laki maupun perempuan, dengan syahwat maupun tidak, maka wudhunya batal. Karena disini haditsnya bersifat umum, tidak ada syarat harus dengan syahwat. Namun apabila menyentuh dengan kain atau menyentuh dibalik sarungnya, maka wudhunya tidak batal.

4. Hilang Akal: hilangnya akal baik disengaja maupun tidak membatalkan wudhu. Jika seseorang hilang akalnya baik karena disebabkan mabuk, pingsan, ayan, gila dan lain-lain maka ia wajib wudhu apabila telah sadar.

5. Keluar Hadats: keluar hadats baik dari lubang belakang maupun depan membatalkan wudhu. Misal keluar hadats dari lubang belakang seperti, buang angin atau kentut dan buang air besar. Misal keluar hadats dari lubang depan seperti, kencing, keluar mani dan madzi. Semua yang disebutkan disini adalah membatalkan wudhu.

6. Berjima':Berhubungan badan adalah termasuk yang membatalkan wudhu dan wajib mandi junub walau tidak mengeluarkan sesuatu apapun darinya. Allah SWT berfirman:

أو لامستم النساء

“Atau kamu telah menyentuh perempuan”. {QS: Annisa’: 43}

7. Memakan Daging Unta: Telah tetap dari Rasulullah SAW dari hadits Jabir bin Samuroh bahwasanya Beliau ditanya:

(يا رسول الله، أنتوضأ من لحوم الإبل؟ قال: “نعم” وقيل له: أنتوضأ من لحوم الغنم؟ قال: “إن شئت” (أخرجه مسلم كتاب الحيض باب الوضوء من لحم الإبل، برقم (360

“Ya Rasulullah, apakah saya (harus) wudhu dari (memakan) daging unta? Beliau menjawab “Iya”. Dan ada yang bertanya kepadanya: Apakah saya (harus) wudhu dari (memakan) daging kambing? Beliau menjawab: “jika kamu mau”. [HR: Muslim] Rasulullah memberi pilihan kepada orang yang bertanya mengenai wudhu setelah memakan daging kambing, akan tetapi tidak member pilihan mengenai wudhu setelah memakan daging unta, bahkan Beliau mewajibkannya. Juga terdapat hadits dari Al Bara’ bin Azib, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

(توضؤوا من لحوم الإبل, ولا توضؤوا من لحوم الغنم (أخرجه ابن ماجه في كتاب الطهارة وسننها، باب ما جاء في الوضوء من لحوم الإبل، برقم (497

“Berwudhulah dari (memakan) daging unta, dan tidak (wajib) berwudhu dari (memakan) daging kambing”. [HR: Ibnu Majah]

8. Apakah Menyentuh Istri Membatalkan Wudhu?:ada perbedaan pendapat di antara ulama mengenai masalah ini. Ada tiga pendapat yang  terkenal mengenai masalah menyentuh wanita, apakah membatalkan wudhu atau tidak. Yang pertama: pendapat sekelompok ahli ilmu yang mengatakan bahwa menyentuh wanita tanpa pembatas atau kain membatalkan wuhdu secara mutlak. Pendapat ini masyhur dari madzhab Imam Syafi’i rahimahullah. Pendapat ini berdalil dengan firman Allah Ta’ala: “Atau kamu telah menyentuh perempuan”. {QS: Annisa’: 43} dan maksud “menyentuh” disini adalah bersentuhan atau menyentuh wanita yang berarti memegang dengan tangan. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu. Yang kedua: pendapat dari jamaah ulama dan yang masyhur dari madzhab Ahmad bin Hanbal. Pendapat ini mengatakan bahwa menyentuh wanita dengan syahwat membatalkan wudhu, akan tetapi jika menyentuh tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu. Yang ketiga: pendapat dari sekelompok ulama yang mengatakan bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak. Menyentuh wanita baik dengan syahwat maupun tidak dengan syahwat, baik menyentuh istri, mahram maupun wanita asing (ajnabiyah) tidak membatalkan wudhu. Adapun firman Allah:

أو لامستم النساء

“Atau kamu telah menyentuh perempuan”. {QS: Annisa’: 43}  maka maksud “menyentuh disini adalah jima’ atau berhubungan badan. Hal ini sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radhiallahu anhu dan sekelompok ahli ilmu. Allah SWT mengungkapkan kata jima’ dengan menyentuh dan menggauli, karena Al Qur’an menggunakan bahasa yang sangat halus. Allah juga menggunakan kata “massa” yang berarti menyentuh untuk mengungkapkan kata “bercampur” dengan istri atau jima’. Dalam bahasa Arab kata Massa – yamussu dan lamisa/lamasa-yalmasu sama-sama bermakna menyentuh, akan tetapi terkadang digunakan untuk mengungkapkan kata jima’ atau bercampur atau menggauli. Allah SWT berfirman:

وإن طلقتموهن من قبل أن تمسوهن

“jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka”. [Al Baqarah: 237]. Maryam binti Imran berkata:

أنى يكون لي ولد ولم يمسسني بشر

Bagaimana saya mempunyai anak sedang saya belum pernah disentuh orang? Arti kata “disentuh” adalah digauli atau dijima’, karena tidak mungkin hanya disentuh bisa mempunyai anak. Orang yang berpendapat dengan pendapat ini juga mengatakan; bahwa maksud dari firman Allah:

وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مَّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء‏  فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ‏}‏الآية ‏[‏المائدة‏:‏ 6‏]‏

“Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari buang air atau kamu telah menyentuh perempuan dan tidak mendapatkan air, maka hendaklah bertayammum” ayat tersebut untuk menegaskan akan wajibnya berseuci dari hadats kecil dan besar. Maka firman Allah: أَوْ جَاء أَحَدٌ مَّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ  “atau kembali dari buang air”  disini  untuk menegaskan akan wajibnya berwudhu  untuk menghilangkan hadats kecil, yaitu buang air besar. Adapun firman Allah: أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء “atau kamu telah menyentuh wanita” maka disini untuk menjelaskan wajibnya mandi junub untuk menghilangkan hadats besar, yaitu jima’. Dan apabila tidak mendapatkan air, maka hendaklah bertayamum sebagai pengganti air. Para ulama yang berpendapat bahwa menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak juga berdalil dengan beberapa hadits shahih, diantaranya adalah:

(كان رسول الله صلي الله عليه وسلم يقبل بعض نسائه ثم يصلي ولا يتوضأ (أخرجه النساء في المجتبي في كتاب الطهارة، باب ترك الوضوء من القبلة، برقم (170

Adalah Rasulullah SAW mencium sebagian istrinya kemudian shalat dan tidak wudhu. [HR. Nasa’i] Wallohu a’lam bish showab.

About these ads

35 Responses to “Hal-Hal Yang Membatalkan Wudhu”

  1. bekujung dlm waktu yg lama.. mohon maaf lahir n bathin

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Ahmad Farisi…

    Alhamdulillah, senang dapat bertemu kembali blog ini. Kok belum up-date lagi nich.
    Bunda hadir mahu mengucapkan terima kasih atas kiriman ucapan selamat hari rayanya tempoh hari. Maaf tidak dapat membalas kerana ada masalah teknikal. Jadinya bunda ingin membalasnya di blog Ahmad sahaja.

    Ramadhan membasuh hati yang berjelaga
    Saatnya meraih rahmat dan ampunan-Nya
    Untuk lisan dan sikap yang tak terjaga
    Mohon dibukakan pintu maafnya.

    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H
    Maaf zahir dan bathin
    Minal Aidin Wal Faidzin
    Taqabalallahu minnaa wa minkum

    Didoakan Ahmad selalu berjaya. Wah.. bunda kangen mahu tahu perkembangan kerjaya Ahmad. Gimana ? sudah kerja atau sambung studi lagi nich ? Harap mendapat khabarnya.

    Salam mesra selalu dari bunda di Sarikei, Sarawak. :D

    *** Jika ada ruang waktu sila kunjungi bunda di blog baru bunda ya…

  3. lely said

    maturnuwun untuk sharenya :)

  4. Rumah said

    maksih wat ilmunya …
    jazahumullahu khairan kasiran ^_^

  5. Kausar said

    Makan nasi atau minum atau merokok apa dapat membatalkan wudhu ya? Terus kalau habis mandi belum memakai baju tpi hnya ada kain dibadan, apakah sah mengambil air wudhu? Terima kasih

    • Bismillahirrahmanirrahiim… makan dan minum tidak membatalkan wudhu, kecuali makan daging unta, sebagaimana hadits di atas. tidak ada syarat berwudhu harus memakai baju. tp seandainya ia berwudhu dg hanya memakai handuk, maka wudhunya tetap sah.

  6. Kontraktor said

    wah makasih bgt infonya…
    thx yah

    salam kenal…

  7. andrie gunawan said

    kalau kta wudhu, dibawah kucuran air ada ember,trus air yg di ember itu kta pakai untuk menyiram kaki atau kta sentuh stelah berwudhu,apakah tu batal wudhunya ?

  8. nova said

    moga d blok ini berguna bagi anak pelajar pada saat ini.
    amin :-)

  9. juoga said

    Walaupun disengaja atau tidak yang nama nya bersentuhan dengan yang bukan muhrim tetap membatalkan wudhu

    • X said

      Bersentuhan kulit saja tidak batal karena yg dimaksud menyentuh adalah berhubungan intim. Kalo memang batal lalu bagaimana kalo bersentuhan/nyenggol saat lagi menunaikan haji/thawaf apa harus balik lagi ambil wudhu lagi?

  10. Smoga stelah mmbaca ini bermanfaat bagiku.

  11. SYAIKHI said

    TERIMAKASIH, DG MEMBACA INI JADI MENAMBAH KEYAKINAN.

  12. SYAIKHI said

    BAIK

  13. aku minta ijin bagi-bagi ilmu ya……….

  14. wendy said

    pak kalo semisalnya keluar mani tanpa di sengaja bagaimana hukum nya ??
    TOLONG DI JAWAB

    • Bismillahirrohmaanirrohiim…

      Perlu diketahui, kewajiban mandi junub disebabkan dua hal.

      Yang pertama, keluarnya air mani (sperma) baik laki-laki atau wanita, baik keduanya karena intercourse atau tidak. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

      إِنَّمَا الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ

      “Sesungguhnya air itu disebabkan oleh air.” (HR. Muslim)

      Maksudnya, mandi junub itu ada apabila keluar air mani.

      Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah berkata kepada Ali,

      فَإِذَا فَضَخْتَ الْمَاءَ فَاغْتَسِلْ

      “Apabila kamu mengeluarkan air mani maka mandilah.” (HR. Abu Daud)

      Juga hadits Ummu Salamah,

      جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ فَهَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ مِنْ غُسْلٍ إِذَا احْتَمَلَتْ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نَعَمْ، إِذَا رَأَتْ اَلْمَاءَ

      “Ummu Sulaim datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh Allah tidak malu dari kebenaran. Apakah wanita wajib mandi jika dia “bermimpi” (mimpi basah)? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya, apabila melihat (mendapatkan) air maninya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

      Yang kedua, persentuhan dua alat kelamin atau intercourse, baik keluar maninya atau tidak, dengan dasar hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

      إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا اْلأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ الْغَسْلُ

      “Apabila seseorang telah duduk di antara empat cabang wanita (kedua lengan dan pahanya) kemudian ‘menyuguhinya’ (intercourse) maka ia wajib mandi.” (Muttafaqun ‘alaihi)

      Dalam riwayat Muslim ada tambahan kata, “…walaupun air maninya tidak keluar.”

  15. demam anak said

    makasih infonya yaaa…salam kenal ya

  16. Suki said

    Syukron infonya akhi. Ilmu akan bermanfaat apabila diajarkan kepada orang lain. Wassalam

  17. Terima KAsih Gan, Ane JAdi mLebih Banyak Tau Tentang tata Cara wudhu Dan hal Lain tentang Wudhu

  18. Taufan Nurrahman Saleh said

    Assalamu’alaikum….

    Saya mau tanya tentang kejelasan apakah menyentuh istri itu membatalkan wudhu? Dan tolong jelaskan dari mana dalilnya.. Masalahnya saya sama istri sering beda pendapat tentang hal ini. Istri saya bilang kal bersentuhan dengan suami bisa membatalkan wudhu tapi saya berpendapat sebaliknya… Karena saya beranggapan suami istri adalah muhrim
    tolong penjelasannya ya..

    Wassalamu’alaikum

    • masing2 mempunyai pendapat yang kuat…. dan di atas sudah saya jelaskan. ada 3 kelompok dalam masalah itu.
      namun, kalau kita melihat dalil2 yg lain, maka dalil itu akan menunjukan bahwa menyentuh istri tidak membatalkan wudhu, krn rasulullah pernah mencium istrinya ketika setelah wudhu, kemudian beliau shalat. wallahu a’lam

  19. Marfu'ah said

    Assalamu ‘alaikum…..
    Maw tanya, makan makanan ringan misalx biskuit atau roti, minum susu, teh atau minuman lain, bisa membatalkan wudhu atau tidak?????

  20. alamsyah said

    terus sebarkan ilmu, makasih banyak

  21. [...] [...]

  22. Yola sania sui said

    Assalamu’alaikum.
    Saya mo ucpin makasih nh.
    Info ini ngebantu bgt buat saya :)

  23. Jomuti said

    Thanks atas infonya sangat bermanfaat banget

  24. puga sakti wibowo said

    assalamualaikum, mohon maaf saya mau tanya
    misal saya ingin berusaha menyimpan wudlu dan tanpa sengaja salah 1 teman (perempuan) menyentuh tangan saya. Apakah wudlu saya batal?

  25. puga sakti wibowo said

    dan apablia disekolah sa’at berjabat tangan dengan ibu guru, apakah itu membatalkan wudlu?

  26. Puga Sakti Wibowo@

    seperti tulisan di atas, disitu ada perbedaan pendapat dalam masalah menyentuh wanita, apakah dia membatalkan wudhu atau tidak…
    kalau kita lihat dan teliti, nampaknya pendapat yg mengatakan menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu itu lebih kuat.

    namun, meski demikian, bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya harus dihindari… karena kalau sengaja depat menyebabkan dosa. wallahu a’lam

  27. ahmad sibawaih said

    asalamualaikum ,,,dikatakan bahwa ,,,,,,,bersentuhan dengan perempuan (istri) tidak batal yang dimaksud dalam surahn annisa AU LAMASTUMUNNISA adalah ber jimak lalu bagaimana dengan disurah al-waqia’ah LA YAMASSUHU ILLAL MUTHOHARUN” disitu bermak na menyentuh apakah juga bermakna jimak padahal satu akar kata jadi intinya imam assyafi’i lebih berhati2 dan sesuai hadist nabi ,NABI MENCIUM SALAH SATU ISTRI NABI LALU SHALAT ” kita bisa melihat kultur arab dengan kultur indonesia arab jilbabnya bercadar sedangkan in donesia jilababnya nggak bercadar jadi gimana pemahaman orang terhadap ini sedang kan menyentuh wanita bukan mahrum itu dosa jadi dimana letak nya kita mengambil iktibar terima kasih

  28. novita said

    Dibaca ya….

  29. Ilmu Fiqih said

    Semoga ilmunya berkah selalu

  30. Erma said

    Saya menangis setelah berwudhu sebelum sholat apakah membatalkan wudhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers

%d bloggers like this: