Catatan Kehidupan ElFaRis FeLisTaNo

Never too old to learn and to do

Adab Islami Ziarah Kubur

Posted by Ahmad Farisi on 21 March 2013

Ketahuilah hamba-hamba Allah, sadar atau tidak sadar, kita semua saat ini sama-sama sedang menuju garis akhir kehidupan kita di dunia,  meskipun jaraknya berbeda-beda setiap orang. Ada yang cepat, ada yang lama. Tetapi, perlahan tapi pasti, setiap orang menuju garis akhir kehidupannya di dunia, itulah kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali ‘Imran : 185)

Setelah mati, seorang hamba hanya tinggal memetik apa yang selama ini ia tanam di dunia, tidak ada kesempatan kedua untuk menambah amal. jika kebaikan yang ia tanam, itulah yang akan ia panen. Jika keburukan yang ia tanam, maka dialah yang akan merasakannya sendiri. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk banyak-banyak mengingat kematian. Beliau bersabda,

“أكثروا ذكر هازم اللذات” يعني : الموت.

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yakni kematian) ”[1]

Dan di antara cara untuk mengingat kematian adalah dengan berziarah kubur. Banyak sekali manfaat yang dapat dipetik dari amalan berziarah ke kubur. Inilah yang akan menjadi topik pembahasan kali ini[2] mengingat masih banyaknya kaum muslimin yang salah dalam menyikapi ziarah ini sehingga bukannya manfaat yang mereka raih, akan tetapi ziarah mereka justru mengundang murka Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga Allah Ta’ala  memberikan kita semua petunjuk.

Hukum ziarah kubur

Ziarah kubur adalah sebuah amalan yang disyari’atkan. Dari Buraidah Ibnul Hushaib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah” [3]

Bolehkah wanita berziarah kubur?

Para ulama berselisih dalam hal ini. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan ada 5 pendapat ulama dalam masalah ini :

-          Disunnahkan seperti laki-laki

-          Makruh

-          Mubah

-          Haram

-          Dosa besar[4]

Ringkasnya, pendapat yang paling kuat –wallahu a’lam- adalah wanita juga diperbolehkan untuk berziarah kubur asal tidak sering-sering. Hal ini berdasarkan beberapa alasan :

Pertama: Keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang sudah lewat :

كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, maka sekarang berziarahlah”[5]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara laki-laki dan wanita.

Kedua: Hadits-hadits yang menunjukkan bolehnya wanita berziarah lebih shahih daripada hadits yang melarang wanita berziarah. Hadits yang melarang wanita berziarah tidak ada yang shahih kecuali hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :

أن رسول الله لعن زوّارات القبور

“Rasulullah melaknat wanita yang sering berziarah kubur”[6]

Ketiga: Lafazh زوّارات dalam hadits di atas menunjukkan makna wanita yang sering berziarah. Al Hafizh Ibnu Hajar menukil perkataan Imam Al Qurthubi : “Laknat dalam hadits ini ditujukan untuk para wanita yang sering berziarah karena itulah sifat yang ditunjukkan lafazh hiperbolik tersebut (yakni زوّارات )”[7]. Oleh karena itu, wanita yang sesekali berziarah tidaklah masuk dalam ancaman hadits ini.

Keempat: Persetujuan (taqrir) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur kemudian beliau hanya memberikan peringatan kepada wanita tersebut seraya berkata,

اتقى الله و اصبرى

“Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah!”[8]

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengingkari perbuatan wanita tersebut. Dan sudah diketahui bahwa taqrir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hujjah.

Kelima: Wanita dan laki-laki sama-sama perlu untuk mengingat kematian, mengingat akhirat, melembutkan hati, dan meneteskan air mata dimana hal-hal tersebut adalah alasan disyari’atkannya ziarah kubur. Kesimpulannya, wanita juga boleh berziarah kubur

Keenam: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan keringanan kepada para wanita untuk berziarah kubur. Dalilnya adalah hadits dari shahabat Abdullah bin Abi Mulaikah :

أن عائشة أقبلت ذات يوم من المقابر، فقلت لها: يا أم المؤمنين من أين أقبلت؟ قالت: من قبر أخي عبد الرحمن بن أبي بكر، فقلت لها: أليس كان رسول الله نهى عن زيارة القبور؟ قالت: نعم: ثم أمر بزيارتها

“Aisyah suatu hari pulang dari pekuburan. Lalu aku bertanya padanya : “Wahai Ummul Mukminin, dari mana engkau?” Ia menjawab : “Dari kubur saudaraku Abdurrahman bin Abi Bakr”. Lalu aku berkata kepadanya : “Bukankah Rasulullah melarang ziarah kubur?” Ia berkata : “Ya, kemudian beliau memerintahkan untuk berziarah” “[9]

Ketujuh: Disebutkan dalam kisah ‘Aisyah yang membuntuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ke pekuburan Baqi’ dalam sebuah hadits yang panjang, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah,

كيف أقول لهم يا رسول الله؟ قال: قولي: السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون

“Ya Rasulullah, apa yang harus aku ucapkan kepada mereka (penghuni kubur-ed)?” Rasulullah menjawab, “Katakanlah : Assalamu’alaykum wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang dating kemudian. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian”[10]

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata setelah membawakan hadits ini : “Al Hafizh di dalam At Talkhis (5/248) berdalil dengan hadits ini akan bolehnya berziarah kubur bagi wanita”[11]

Dengan berbagai argumen di atas jelaslah bahwa wanita juga diperbolehkan berziarah kubur asalkan tidak sering-sering. Inilah pendapat sejumlah ulama semisal Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, Al ‘Aini, Al Qurthubi, Asy Syaukani, Ash Shan’ani, dan lainnya rahimahumullah.[12]

Hikmah ziarah kubur

Ziarah kubur adalah amalan yang sangat bermanfaat baik bagi yang berziarah maupun yang diziarahi. Bagi orang yang berziarah, maka ziarah kubur dapat mengingatkan kepada kematian, melembutkan hati, membuat air mata menetes, mengambil pelajaran, dan membuat zuhud terhadap dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang berziarahlah karena ziarah dapat melembutkan hati, membuat air mata menetes, dan mengingatkan akhirat. Dan janganlah kalian mengucapkan al hujr[13][14]

Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hikmah dibalik ziarah kubur. Ketika seseorang melihat kubur tepat di depan matanya, di tengah suasana yang sepi, ia akan merenung dan menyadari bahwa suatu saat ia akan bernasib sama dengan penghuni kubur yang ada di hadapannya. Terbujur kaku tak berdaya. Ia menyadari bahwa ia tidaklah hidup selamanya. Ia menyadari batas waktu untuk mempersiapkan bekal menuju perjalanan yang sangat panjang yang tiada akhirnya adalah hanya sampai ajalnya tiba saja. Maka ia akan mengetahui hakikat kehidupan di dunia ini dengan sesungguhnya dan ia akan ingat akhirat, bagaimana nasibnya nanti di sana? Apakah surga? Atau malah neraka? Nas-alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

Selain itu, ziarah kubur juga bermanfaat bagi mayit yang diziarahi karena orang yang berziarah diperintahkan untuk mengucapkan salam kepada mayit, mendo’akannya, dan memohonkan ampun untuknya. Tetapi, ini khusus untuk orang yang meninggal di atas Islam. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أن النبي كان يخرج إلى البقيع، فيدعو لهم، فسألته عائشة عن ذلك؟ فقال: إني أمرت أن أدعو لهم

“Nabi pernah keluar ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. Maka ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab : “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo’akan mereka””[15]

Adapun jika mayit adalah musyrik atau kafir, maka tidak boleh mendo’akan dan memintakan ampunan untuknya berdasarkan sabda beliau,

زار النبي قبر أمه. فبكى, وأبكى من حوله، فقال: استأذنت ربي في أن أستغفر لها، فلم يؤذن لي، واستأذنته في أن أزور قبرها فأذن لي، فزوروا القبور فإنها تذكر الموت

“Nabi pernah menziarahi makam ibu beliau. Lalu beliau menangis. Tangisan beliau tersebut membuat menangis orang-orang disekitarnya. Lalu beliau bersabda : “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengizinkannya. Dan aku meminta izin untuk menziarahi makam ibuku, maka Dia mengizinkannya. Maka berziarahlah kalian karena ziarah tersebut dapat mengingatkan kalian kepada kematian[16]

Maka ingatlah hal ini, tujuan utama berziarah adalah untuk mengingat kematian dan akhirat, bukan untuk sekedar plesir, apalagi meminta-minta kepada mayit yang sudah tidak berdaya lagi.

Adab Islami ziarah kubur

Agar berbuah pahala, maka ziarah kubur harus sesuai dengan tuntunan syari’at yang mulia ini. Berikut ini adab-adab Islami ziarah kubur :

Pertama: Hendaknya mengingat tujuan utama berziarah

Ingatlah selalu hikmah disyari’atkannya ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran dan mengingat kematian.

Imam Ash Shan’ani rahimahullah berkata : “Semua hadits di atas menunjukkan akan disyari’atkannya ziarah kubur dan menjelaskan hikmah dari ziarah kubur, yakni untuk mengambil pelajaran seperti di dalam hadits Ibnu Mas’ud (yang artinya: “Karena di dalam ziarah terdapat pelajaran dan peringatan terhadap akhirat dan membuat zuhud terhadap dunia”. Jika tujuan ini tidak tercapai, maka  ziarah tersebut bukanlah ziarah yang diinginkan secara syari’at”[17]

Kedua: Tidak boleh melakukan safar untuk berziarah

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah melakukan perjalanan jauh (dalam rangka ibadah, ed) kecuali ke tiga masjid : Masjidil Haram, Masjid Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha”[18]

Ketiga: Mengucapkan salam ketika masuk kompleks pekuburan

“Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan mereka (para shahabat) jika mereka keluar menuju pekuburan agar mengucapkan :

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian, kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian”[19]

Keempat: Tidak memakai sandal ketika memasuki pekuburan

Dari shahabat Basyir bin Khashashiyah radhiyallahu ‘anhu : “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau melihat seseorang sedang berjalan diantara kuburan dengan memakai sandal. Lalu Rasulullah bersabda,

يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ» فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

“Wahai pemakai sandal, celakalah engkau! Lepaskan sandalmu!” Lalu orang tersebut melihat (orang yang meneriakinya). Tatkala ia mengenali (kalau orang itu adalah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia melepas kedua sandalnya dan melemparnya”[20]

Kelima: Tidak duduk di atas kuburan dan menginjaknya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ، فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Sungguh jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api sehingga membakar bajunya dan menembus kulitnya, itu lebih baik daripada duduk di atas kubur”[21]

Keenam: Mendo’akan mayit jika dia seorang muslim

Telah lewat haditsnya di footnote no. 14. Adapun jika mayit adalah orang kafir, maka tidak boleh mendo’akannya.

Ketujuh: Boleh mengangkat tangan ketika mendo’akan mayit tetapi tidak boleh menghadap kuburnya ketika mendo’akannya (yang dituntunkan adalah menghadap kiblat)

Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika beliau mengutus Barirah untuk membuntuti Nabi yang pergi ke Baqi’ Al Gharqad. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di dekat Baqi’, lalu mengangkat tangan beliau untuk mendo’akan mereka.[22] Dan ketika berdo’a, hendaknya tidak menghadap kubur karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat menghadap kuburan. Sedangkan do’a adalah intisari sholat.

Kedelapan: Tidak mengucapkan al hujr

Telah lewat keterangan dari Imam An Nawawi rahimahullah bahwa al hujr adalah ucapan yang bathil. Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan : “Tidaklah samar lagi bahwa apa yang orang-orang awam lakukan ketika berziarah semisal berdo’a pada mayit, beristighotsah kepadanya, dan meminta sesuatu kepada Allah dengan perantaranya, adalah termasuk al hujr yang paling berat dan ucapan bathil yang paling besar. Maka wajib bagi para ulama untuk menjelaskan kepada mereka tentang hukum Allah dalam hal itu. Dan memahamkan mereka tentang ziarah yang disyari’atkan dan tujuan syar’i dari ziarah tersebut”[23]

Kesembilan: Diperbolehkan menangis tetapi tidak boleh meratapi mayit

Menangis yang wajar diperbolehkan sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menangis ketika menziarahi kubur ibu beliau sehingga membuat orang-orang disekitar beliau ikut menangis. Tetapi jika sampai tingkat meratapi mayit, menangis dengan histeris, menampar pipi, merobek kerah, maka hal ini diharamkan.

Rambu-rambu untuk para peziarah

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan ziarah kubur ini agar ziarah kubur yang dilakukan menjadi amalan shalih, bukan menyebabkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala :

  • Hikmah disyari’atkannya ziarah kubur adalah untuk mengambil pelajaran dan mengingat akhirat, bukan untuk tabarruk kepada mayit meskipun dia dahulu orang sholeh. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan : “(Hendaknya) tujuan ziarahnya adalah untuk mengambil pelajaran, nasihat, dan mendo’akan mayit. Jika tujuannya adalah untuk tabarruk dengan kubur,  atau melakukan ritual penyembelihan di sana, dan meminta mayit untuk memenuhi kebutuhannya dan mengeluarkannya dari kesulitan, maka ini ziarah yang bid’ah lagi syirik[24]
  • Tidak boleh mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah karena hal itu tidak ada dalilnya. Kapan saja ziarah itu dibutuhkan, maka berziarahlah. Ingatlah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Diantara hal yang tidak ada tuntunannya juga adalah kebiasaan menabur bunga di atas kuburan. Penta’liq Matan Abi Syuja’ –kitab fikih madzhab syafi’i- berkata : “Diantara bid’ah yang diharamkan adalah menaburkan/meletakkan bunga-bunga di atas jenazah atau kubur karena hanya buang-buang harta”[25]

Selesailah pembahasan tentang ziarah kubur ini. Semoga  Allah ‘Azza wa Jalla agar menjadikan amal ini sebagai amalan yang memberatkan timbangan kebaikan di hari perhitungan kelak  dan memberikan manfaat kepada kaum muslimin dengannya. Aamiin. Wallahu Ta’ala a’lam. Walhamdu lillahi Rabbil ‘aalamin.

 

Penulis: Yananto

Artikel www.muslim.or.id

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Wah…! 360 Pilot, Paramedis dan Teknisi Diterjunkan untuk Membantu Mengamankan Musim Haji

Posted by Ahmad Farisi on 22 October 2012

Mayjen Muhammad bin Abdullah Al-Harbi, Komandan Keamanan Angkatan Udara, mengatakan bahwa para kru helikopter turut diterjunkan pada musim haji tahun ini. Mereka ditugaskan untuk melaksanakan program Pertahanan Sipil, dalam menghadapi situasi gawat darurat yang mungkin terjadi di Kota Suci Makkah dan kawasan Armina (Arafah, Muzdalifah dan Mina) Read the rest of this entry »

Posted in Berita, Islam, Sekedar info | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Saudi Bangun Pintu Elektronik untuk Mencegah Kesemrawutan Penumpang KA Monorel di Masya’ir

Posted by Ahmad Farisi on 8 October 2012

Baru-baru ini Departemen Urusan Perkotaan dan Pedesaan(DUPP) telah memperkenalkan layanan tiket
magnetik dan pintu elektronik di stasiun kereta api monorel di Masya’ir (Arafah, Muzdlifah dan Mina)
untuk mendisiplinkan dan mencegah kesemrawutan para pengguna KA antar kawasan Armina.

Ir. Farid bin Muhammad Al-Ghamidi, Ketua Komisi Pengurusan Tiket Kereta Masya’ir menjelaskan bahwa DUPP telah menyelesaikan semua persiapan untuk proyek kereta Masya’ir, terutama masalah urusan tiket.

Ia menambahkan bahwa dirinya telah mengevaluasi kondisi musim haji tahun lalu yang mana di sana terdapat kesemrawutan karena banyak penumpang yang naik KA tanpa membawa tiket. Read the rest of this entry »

Posted in Berita, Sekedar info | Tagged: , , , | Leave a Comment »

Uniknya Masyarakat Saudi

Posted by Ahmad Farisi on 17 September 2012

Sebelumnya –ketika saya tinggal di Kairo- saya pernah menulis tentang “Uniknya Masyarakat Mesir” Silahkan klik disini

nah, sekarang setelah saya tinggal di Saudi saya juga ingin sekali berbagi pengalaman mengenai gambaran secara global budaya Arab Saudi saat ini. Berikut adalah beberapa budaya Saudi yang dianggap unik:

Budaya Memuji dan Basa-basi:

Bagaimanapun juga, dan di belahan bumi manapun, memuji tetap dianggap lebih baik daripada mencaci, meski sebenarnya pujian yang berlebihan adalah racun, namun cacian adalah kuburan. Orang Saudi suka sekali memuji orang, ini adalah basa-basi mereka yang juga merupakan trik untuk menarik simpati seseorang. Pada umumnya mereka akan luluh hatinya dengan pujian. Mereka akan sangat menghormati kita jika kita menghormati mereka. Sebetulnya ini adalah kunci berinteraksi yang berlaku dimana saja.

Orang Saudi senang dicium kening dan dipegang jenggotnya, karena menurutnya hal itu merupakan penghormatan baginya. Jadi, apabila kamu punya kenalan orang Saudi, cobalah cium keningnya dan pegang jenggotnya, lalu perhatikan perubahan padanya, boleh jadi ia akan menjadi mitra yang baik bagimu. Kalau mereka sudah merasa senang, maka kamu akan tahu bahwa sebenarnya mereka adalah orang yang mudah diajak bergaul dan berjiwa dermawan. Akan tetapi jangan mencoba-coba untuk menyakitinya, karena ia tidak akan segan untuk mengatakan terus terang ketidaksukaanya.

Awas! Jangan Salah Pegang:

Bila kamu punya teman orang Saudi, hati-hatilah bercanda dengannya, karena jika salah canda, bisa jadi ia akan marah denganmu. Jangan sampai ketika kamu bercanda dengannya kamu memukul atau memegang pantatnya. Karena mereka akan sangat marah bila dipegang pantatnya. Kalau terpaksa harus memukul, maka pukullah kepalanya atau bagian yang lain, walaupun lebih keras barangkali itu akan lebih baik bagimu daripada memegang pantat.hehe  Mereka tidak marah dipegang kepalanya. Berbeda dengan budaya kita, kita sangat tidak suka dan bisa marah besar bila dipegang kepalanya. Tapi di Saudi, memegang kepala tidaklah mengapa, tapi jangan pernah coba-coba memegang pantat, karena itu dianggap tidak sopan. Read the rest of this entry »

Posted in Analisa, Intermezo, Sekedar info | Tagged: , , | 2 Comments »

Hal-hal yang Membatalkan Puasa dan Cara Mengqadhanya

Posted by Ahmad Farisi on 24 July 2012

Ditulis oleh: Ahmad Farisi bin Suwariyo Lc

Awali,19 Juli 2012

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kita nikmat iman dan kesehatan, yang dengannya kita masih bisa bertasbih dan menjumpai bulan yang mulia ini. Selawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, penutup para nabi dan teladan umat manusia sepanjang masa, Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Azza wa Jallah berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.  [QS Al Baqarah:183]

Sekarang kita telah memasuki Bulan Suci Ramadhan, bulan dimana di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu juga pahala amal kebaikan dilipatgandakan, doa-doa dikabulkan dan taubat para pendosa yang memohon ampunan segera diampunkan. Subhanallah… Alangkah indahnya bila kita bisa memanfaatkan momentum yang mulia ini dengan menyibukkan diri mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, mengisi rekening akhirat kita dengan amal-amal shalih. Sungguh beruntungnya orang-orang yang bisa memanfaatkan kesempatan emas ini untuk beribadah seperti memperbanyak tilawah Al Qur’an, memberi buka puasa orang-orang yang kurang mampu, shalat berjamaah lima waktu di masjid dan beri’tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Dan amalan yang paling utama pada bulan ini adalah berpuasa. Namun sudahkah kita tau apa itu pengertian puasa, bagaimana tata cara puasa dan apa saja hal-hal yang membatalkan puasa? Mari kita sama-sama mempelajarinya…

Definisi Puasa:

Definisi puasa atau shaum secara etimologi adalah imsak/menahan.  Karena ketika sedang puasa kita menahan dari makan minum dan nafsu. Sedangkan definisi puasa secara terminologi atau syari’at islam adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah SWT dengan cara menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak Fajar / adzan Subuh hingga terbenam matahari / adzan Maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya.

Tata Cara Puasa:
Tata cara puasa adalah seperti pada pengertian puasa secara syari’at islam, yaitu menahan diri dari makan, minum, hawa nafsu, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa dari sejak Fajar tiba atau adzan Subuh hingga terbenam matahari atau adzan Maghrib dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya.

Ketika kita bangun malam, kita niat puasa terlebih dahulu di dalam hati kemudian makan sahur, karena di dalam makan sahur terdapat keberkatan. Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu makan sahur hingga menjelang fajar bila hal itu memungkinkan. Setelah muncul fajar, yang biasanya ditandai dengan adzan subuh maka kita sudah tidak boleh lagi makan dan minum serta melakukan  hal-hal yang dapat membatalkan puasa, hingga terbenam matahari yang biasanya ditandai dengan adzan Maghrib. Ketika matahari sudah terbenam, kita disunnahkan untuk segera berbuka puasa.

 Hal-hal yang Membatalkan Puasa dan Cara Mengqadhanya:

 1.      Makan dan Mimum dengan Sengaja: 
 Makan dan minum atau menghisap sesuatu dengan sengaja adalah termasuk salah satu yang membatalkan puasa, meskipipun yang dikonsumsi adalah barang yang berbahaya seperti narkoba, rokok, minuman keras dan lain-lain. Dan termasuk kategori makanan adalah infus, yaitu suntikan yang mengandung zat-zat makanan yang berfungsi sebagai pengganti makanan untuk menguatkan tubuh.

Dalilnya:
Allah swt berfirman:

 وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

 “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al Baqarah: 187). Read the rest of this entry »

Posted in Dakwah, Islam | Tagged: , , , | 2 Comments »

Dialog dengan Habib Syi’ah

Posted by Ahmad Farisi on 29 June 2012

Bismillahirrahmanirrahiim…

Dialog yang saya tulis ini adalah hasil dari dialog saya dengan seorang habib dari Syi’ah. Tulisan ini bukan bertujuan untuk membongkar kebohongan-kebohongan dan penyelewengan Syi’ah, bukan pula untuk memecah persatuan umat. Saya hanya ingin mengajak pembaca untuk berfikir dan memperhatikan akidahnya dan kemudaian menjaganya dengan baik. Madzhab Syi’ah saat ini telah mengepakkan sayapnya di negeri kita tercinta. Mereka telah menyiapkan para aktifis dakwahnya ke penjuru pelosok nusantara guna menyebarkan paham-paham Syi’ahnya. Bagi yang lengah dan tidak mengenal aqidah yang lurus, maka ia akan mudah masuk kedalamnya.

Pertemuan Pertama di Hotel MovenPick, Madinah Al Munawwarah

Ketika saya sedang duduk-duduk bersama teman setelah makan malam di sebuah restaurant hotel bintang lima MovenPick di Madinah, datanglah seorang Habib yang kebetulan pada saat itu dia menjadi Tour Leader atau ketua rombongan kafilah umrah dari Indonesia. Sebut saja namanya habib MT. Wajah beliau kearab-araban dengan jenggot tipis, berpenampilan mirip dengan penampilan ulama Iran. Beliau mengaku telah berkecimpung di dunia dakwah sejak lama sekali sampai ke luar-luar Jawa. Beliau juga mengatakan bahwa dirinya sudah 12 tahun biasa membawa jamaah umrah ke tanah suci.

Beliau menghampiriku, menggeser kursi dan duduk dihadapanku. ”Syaikh ana mau bicara denganmu lima menit saja, saya tau antum dari Universitas Al Azhar, biasanya pikirannya lebih terbuka” katanya kepadaku dengan suara pelan. “Ahlan wa sahlan” jawabku singkat.

Habib MT: “Saya membawa kitab-kitab, nanti antum saya kasih dan silahkan dibaca baik-baik. Mohonlah kepada Allah agar diberi petunjuk”. Ungkapnya untuk membuka pembicaraan.

Aku: “Iya insya Allah. Syaikh, antum tau kitab AL KAFI?” *1 tanyaku singkat.

(Saya menanyakan kitab itu karena sejak awal saya sudah merasakan bahwa dia adalah seorang Syi’ah dan akan menyebarkan paham syi’ah kepadaku, serta mengajakku untuk ikut menjadi aktifis dakwah Syi’ah. Saya telah mencium gelagat Syi’ah darinya ketika pertama kali beliau mengadakan pengajian untuk para jamaah umrah. Sebelum ke acara inti siraman rohani, beliau menjelaskan tentang tata cara wudhu yang benar sesuai pemahaman yang beliau ikuti sekarang. Menurutnya wudhu yang selama ini banyak dilakukan orang-orang adalah salah. Sudah puluhan tahun kita berwudhu dengan cara salah seperti itu, karenanya harus dirubah dengan pelan-pelan” pungkasnya. Beliau mengartikan membasuh kedua kaki hingga “Ka’baini” dua mata kaki, kata ka’bun adalah dari kata ‘Kubbah’. Jadi kata ka’bain berasal dari kata kubbatain yang artinya dua kubbah. Kubbah kaki adalah telapak kaki bagian atas atau punggung telapak kaki. Sehingga menurutnya bagaian kaki yang harus dibasuh saat berwudhu hanyalah punggung telapak kaki, seperti ketika membasuh (khuf) kaus kaki dari kulit.)

Habib MT: “Kita tidak usah membicarakan kitab itu, kitab-kitab Ahlussunah seperti Al Bukhari  juga tidak semua antum terima kan?” Jangan ikut-ikutan orang yang menuduh bahwa Syi’ah mengatakan Al Qur’an telah berkurang, Jibril as salah memberi wahyu kepada seseorang, yang seharusnya untuk Imam Ali, ternyata diberikan untuk Nabi Muhammad SAW dan lain sebagainya”.

Aku: “Iya saya tidak ikut mengatakan seperti itu, meski saya tau pernyataan tersebut ada di dalam kitab Syi’ah, tapi itu bukan pendapat mayoritas Syi’ah, makanya saya mencoba meluruskan teman-teman yang mengatakan bahwa syi’ah menganggap Al Qur’an telah berkurang dan berubah serta Malaikan Jibril salah dalam memberikan wahyu. Saya berusaha bersikap netral.

Menuduh dan mengatakan kesesatan mereka yang seperti itu malah hanya akan menambah mereka semakin jauh tersesat, karena mereka akan sibuk mencari alasan untuk mendukung pemikirannya atau mencari bantahannya. gumamku dalam hati.

Habib MT: “Sekarang antum tentukan pilihan. Ikutilah jalan yang lurus. Madzhab Ahlul bait. Bukankah Imam Mahdi akan muncul dari Ahlul bait? Itu ada dalam hadits-hadits riwayat Ahlussunnah”. Read the rest of this entry »

Posted in Aqidah | Tagged: , , , | 18 Comments »

Perahu dan kamera Disiapkan Guna Memantau Gerak Jamaah Haji di Masya’ir dan Perbatasan Makkah

Posted by Ahmad Farisi on 2 November 2011

Penjaga perbatasan wilayah kota Makkah gunakan perahu karet dan kamera kontrol guna memantau pergerakan jamaah haji di Masya’ir (Armina) dan perbatasan darat dan laut. Penjaga perbatasan kini lebih berkonsentrasi pada program keamanan untuk musim haji tahun ini. Hal itu guna memperketat kontrol pada perbatasan laut wilayah Makkah, melalui intensifikasi patroli laut dan darat di sepanjang pantai Laut Merah.

Mereka berpatroli menggunakan perahu jarak jauh dan jarak menengah serta melakukan patrol darat selama 24 jam di pantai Laut Merah. Read the rest of this entry »

Posted in Berita, Sekedar info | 3 Comments »

Qaradhawi: Melakukan Demonstrasi dan Mengangkat Slogan-slogan Politik dalam Haji “Haram”

Posted by Ahmad Farisi on 29 October 2011

Presiden Persatuan Ulama Muslim Sedunia, Syeikh Youssef al-Qaradhawi mengingatkan bahwa mengusung slogan-slogan politik, demonstrasi dan menghasut orang untuk mengganggu keamanan haji, haram hukumnya. “Itu semua adalah perkara yang tidak sesuai dilakukan ketika dalam pelaksanaan rukun islam yang kelima” katanya.

Qaradhawi menyatakan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar «Okaz» Arab Saudi, “Tuhan telah menjadikan Negeri, tempat dimana disitu didirikan ibadah haji, sebagai Negeri yang aman dan sejahtera, sehingga kaum muslimin merasa nyaman dan khusuk dalam melaksanakan manasik haji. Read the rest of this entry »

Posted in Berita, Islam, Opini | Leave a Comment »

Hal-Hal Yang Membatalkan Wudhu

Posted by Ahmad Farisi on 19 July 2011

1. Keluar Darah Banyak: ada perbedaan pendapat di antara ahli ilmu mengenai keluarnya darah, apakah membataklan wudhu atau tidak. Diantara mereka ada yang berpendapat membatalkan wudhu dan sebagian yang lain berpendapat tidak membatalkan wudhu. Jadi sebaiknya demi untuk kehati-hatian dan keluar dari perselisihan, apabila seorang Muslim keluar darah banyak, hendaklah ia berwudhu. Akan tetapi kalau keluarnya hanya sedikit, seperti mimisan, keluar darah dari gusi, dari bibir, dan keluar darah dari luka ringan,  maka tidak membatalkan wudhu. Keluarnya darah yang sedikit dapat dimaafkan.

2. Tidur Nyenyak:salah satu yang membatalkan wudhu adalah tidur, hal ini berdasarkan hadits shahih, hadits dari shofwan bin ‘Assal ra:

كان النبي يأمرنا أن نمسح علي خفافنا، ولا ننزع خفافنا إلا من جنابة، ولكن من غائط و بول و نوم (أخرجه الترمذي والنساء و ابن ماجه)

“ Rasulullah SAW menyuruh kami untuk mengusap khuf (kaus kaki dari kulit), dan tidak melepaskannya ketika kami habis dari buang air besar, kencing dan tidur, kecuali apabila kami junub”.  [HR: Tirmidzi di dalam kitab Thaharah, bab “mengusap khufain bagi musafir dan mukim” no 96. Nasa’i dalam kitab Thaharah, bab “wudhu dari buang air besar dan kecil” no 158. Ibnu Majah kitab Thaharah dan sunnah-sunnahnya, bab “wudhu dari tidur” no 478.] Maksudnya apabila hanya sekedar buang air besar, kencing dan tidur, maka ia hanya berwudhu dan mengusap khuf yang ia kenakan dan tidak wajib melepasnya. Kecuali apabila orang tersebut junub, maka ia harus melepas khuf dan mandi junub. Rasulullah SAW juga bersabda: Read the rest of this entry »

Posted in Analisa, Dakwah, Islam | 34 Comments »

TUNTUNAN WUDHU RASULULLAH SAW

Posted by Ahmad Farisi on 4 June 2011

Risalah Wudhu….

Oleh: Akhukum Fillah, Abu Abdillah Faris (Ahmad Farisi)

Segala puji hanya bagi Allah SWT. Dialah yang Maha Suci dan menyuruh hamba-Nya untuk bersuci dari hadats. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan dan suri tauladan kita Nabi Agung, Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia mengamalkan sunnahnya hingga ajal menjemput. Amma Ba’du. Allah SWT mensyari’atkan wudhu atau bersuci dari hadats sebagai syarat sahnya beberapa ibadah, seperti shalat dan thawaf. Pada asalnya wudhu disyari’atkan bersamaan dengan shalat. Yang mana perintah untuk berwudhu ini pada dasarnya diperintahkan kepada seseorang apabila ia hendak melaksanakan shalat. Allah SWT berfirman: [QS Al Maidah: 6]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ الْغَائِطِ أَوْ لامَسْتُمْ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.[QS Al Maidah: 6]

Rasulullah SAW bersabda:

لا تُقْبَلُ صَلاَةً بِغَيْرِ طَهُور

Tidaklah diterima ibadah shalat kecuali dalam keadaan suci.

Shalat bagi muslim adalah wajib dan fardhu ‘ain, begitu juga wudhu dan bersuci dari hadats, baik hadats besar maupun kecil. Karena tidak sah ibadah shalat seseorang melainkan ia dalam keadaan suci dari hadats, sehingga wajibnya wudhu itu dikarenakan suatu ibadah yang hendak ia kerjakan dan mewajibkan baginya suci dari hadats. Kaidah ushul fiqih mengatakan: مالا يتم الواجب الا به فهو واجب Suatu kewajiban yang tidak sempurnya kecuali denganya, maka menggunakannya menjadi wajib. Jadi hakikat wudhu adalah untuk bersuci dan mengangkat hadats. Jadi setelah kita mengetahui wajibnya berwudhu ketika kita hendak shalat dan hakikat wudhu, maka kita juga harus mengetahui bagaimana dan seperti apakah wudhu yang benar yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Karena segala ibadah dalam Islam mempunyai tuntunannya, dan sesuatu hal itu dianggap ibadah apabila memenuhi dua syarat yaitu: ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.

Ada Apa Dengan Wudhu Rasulullah SAW…??? Read the rest of this entry »

Posted in Dakwah, Islam, Tips dan Trik | 12 Comments »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers